





Pergelaran film Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga akan kembali menyapa pecinta sinema pada Sabtu, 10 November 2007, pukul 19.30 WIB. Acara bulanan bertajuk “Bamboe Shocking Film!” (BSF) ini hadir di Café Bamboe, Jl Jend Sudirman no 126 Purbalingga.

jamboree diikuti pegiat film Banyumas yang bekerja di luar Banyumas. Banjarnegara tidak memiliki wakil akibat komunitasnya belum kokoh.
“Peronika” besutan sutradara Bowo Leksono dan “Metu Getih” karya Heru C. Wibowo dari Purbalingga bersama 16 film pendek Indonesia lainnya, tampil di Festival Film Eropa. Film-film tersebut diputar sebelum pemutaran film-film panjang Eropa.
Festival bertajuk “Europe on Screen 2007” (EOS 2007) ini akan berlangsung 26 Oktober hingga 2 November 2007 yang digelar di pusat-pusat kebudayaan, yaitu GoetheHaus, Erasmus Huis, Instituto Italiano di Cultura, dan Centre Culturel Francais Jakarta. Disamping hendak dikelilingkan ke tujuh kota di Indonesia, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banda Aceh, Medan dan Makassar.
Bagi sineas Purbalingga dan Banyumas pada umumnya, keterlibatan dua film mereka memiliki arti penting bagi perkembangan film daerah. “Satu lagi bukti bahwa film Purbalingga tak hanya diakui di tingkat lokal dan nasional, namun mampu menembus pengakuan tingkat global,” tutur Bowo Leksono yang juga Manager Program Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga.
Sesuai tema EOS 2007 yaitu keberagaman, Film “Peronika” dan “Metu Getih” mewakili karya-karya film Banyumas dengan bahasa yang khas ngapak-ngapak. Tak hanya itu, dalam kedua film yang beberapa kali menembus nominasi berbagai ajang festival film ini, sangat kental dengan nilai kebanyumasan.
Di Purbalingga sendiri, gejolak anak muda dalam memproduksi film terus berlangsung. Di bawah payung CLC, belasan komunitas film terfasilitasi. Pun di tingkatan eks-Karesidenan Banyumas yaitu melalui lembaga Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB).
Festival Film Eropa pertama kali diselenggarakan di Indonesia pada tahun 1990 dan diikuti dengan festival kedua di tahun 1999. Sejak 2003, festival ini menjadi festival tahunan yang diselenggarakan lembaga-lembaga kebudayaan dan perwakilan negara-negara Eropa di Indonesia.
Penyelenggaraan EOS 2007 bertujuan meningkatkan kerjasama Indonesia-Eropa, disamping mempromosikan keberagaman (multikulturalisme), yang menjadi tema EOS tahun ini dengan menyajikan gambaran Eropa yang multikultur. Dengan EOS, diharapkan memperdalam dialog dan saling pengertian antara Indonesia dan Eropa.
Melalui karya film, Purbalingga dan Banyumas pada umumnya, akan menjadi bahan perbincangan dunia. “Kami bangga mewakili Banyumas di ajang perfilman Internasional. Dan semoga ini menjadi kebanggaan masyarakat Banyumas dimana pun berada,” ujar Bowo. Bolex

Mengapa tungro harus dikendalikan?
Tun
gro adalah satu dari penyakit padi yang paling merusak di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Epidemik penyakit ini telah terjadi sejak pertengahan tahun 1960an. Malai yang terserang jarang menghasilkan gabah, menjadi pendek dan steril atau hanya sebagian yang berisi dengan gabah yang berubah warna. Pembungaan tanaman sakit tertunda dan pembentukan malai sering tidak sempurna.
Bagaimana Mengendalikan Tungro?
Varietas tahan. Penggunaan varietas tahan seperti Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Bondoyudo, dan Kalimas merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tungro. Rotasi varietas penting untuk mengurangi gangguan ketahanan.
Pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sumber penyakit dan menghancurkan telur dan tempat penetasan wereng hijau. Bajak segera setelah panen bila tanaman sebelumnya terkena penyakit.
Cabut dan bakar tanaman yang sakit. Ini perlu dilakukan kecuali bila serangan tungro sudah menyeluruh. Bila serangan sudah tinggi maka mungkin ada tanaman yang terinfeksi tungro tapi kelihatan sehat. Mencabut tanaman yang terinfeksi dapat mengganggu wereng hijau sehingga makin menyebarluaskan infeksi tungro.
Tanam benih langsung (Tabela): Infeksi tungro biasanya lebih rendah pada tabela karena lebih tingginya populasi tanaman (bila dibandingkan tanam pindah). Dengan demikian wereng cenderung mencari dan makan serta menyerang tanaman yang lebih rendah populasinya.
Waktu Tanam: Tanam padi saat populasi wereng hijau dan tungro rendah.
Tanam serempak: Upayakan petani tanam serempak. Ini mengurangi penyebaran tungro dari satu lahan ke lahan lainnya karena stadium tumbuh yang relatif seragam.
Rotasi. Pertanaman padi terus-menerus akan meningkatkan populasi wereng hijau sehingga sulit mencegah infeksi tungro. Adanya periode bera atau tanaman lain selain padi dapat mengurangi populasi wereng hijau dan ketersediaan inang untuk virus tungro. Pilihan Pengelolaan Tungro
Pengendalian juga perlu dilakukan untuk wereng hijau dengan menggunakan insektisida yang berbahan aktif BPMC, buprofezin, etofenproks, imidakloprid, karbofuran, MIPC, atau tiametoksam.
Sumber: IRRI Rice Knowledge Bank(Masukan diperoleh dari G.Jahn, I.Choi dan MA Bell) Disadur oleh: J. Bawolye / MSyam – Des. 2006.