Selasa, 29 Januari 2008

Film Purbalingga Beradu di Bandung

Kembali, film-film dari Kota Perwira menghiasi festival film tingkat nasional. Kali ini tampil di ajang Ganesha Film Festival (Ganffest) 2008 di Kota Bandung. Film-film Purbalingga yang berhasil menembus official selection adalah Pasukan Kucing Garong, Peronika keduanya disutradarai Bowo Leksono dan Metu Getih sutradara Heru C. Wibowo beradu bersama 17 judul film lainnya dari seluruh Indonesia. Satu film bertajuk Celilian karya Heru C. Wibowo masuk special screening.

Festival yang merupakan kompetisi film pendek ini diadakan oleh Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM-ITB) sebagai bentuk kepedulian terhadap komunitas-komunitas film independen. Malam penganugerahan hendak digelar pada Sabtu, 2 Februari 2008, di Campus Centre ITB.

Sutradara film Metu Getih Heru C. Wibowo mengungkapkan seperti halnya festival-festival film pendek lain di Indonesia, Ganffest 2008 juga sebagai media apresiasi dan sekaligus media pembuktian bagi film-film produksi Banyumasan di tanah Sunda.

”Pembuktian yang dimaksud bukan sedang mencari menang-kalah, tapi membuktikan apakah film-film dari Purbalingga yang kental berlatar Banyumasan dapat diterima di Jawa bagian barat,” ujar Heru.

Menurut Heru, pembuat film yang juga pegiat Cinema Lovers Community (CLC), kali ini, tak banyak karya-karya film anak muda Purbalingga yang bernaung di bawah payung CLC yang dikirim ke festival di Bandung. ”Apalagi hanya berkesempatan yang bergenre fiksi. Namun kami tetap yakin film-film kami bisa diterima dan mampu mewakili budaya Banyumas,” tuturnya.

Festival yang menampung film-film berkategori fiksi, animasi, dan video art ini telah membuka pendaftaran sejak 23 November 2007 dan ditutup pada 25 Januari 2008. Selama dua hari, yaitu 31 Januari dan 1 Februari 2008 digelar pemutaran film dan diskusi.

Ganffest 2008 adalah festival film independen pertama di Bandung yang memberikan kesempatan bagi para pembuat dan kreator film independen untuk berapresiasi. Dengan membawa semangat indie epidemic, festival yang terbuka untuk umum ini memberikan alasan kuat kenapa film independen akan selalu eksis.

Dengan adanya festival film indie di Bandung ini, menambah deretan ajang festival di Indonesia. Diharapkan, Ganffest menjadi suatu perayaan berkumpulnya para indie film maker dan indie film lover untuk saling unjuk gigi, saling bersosialisasi, dikenali dan berapresiasi. BOLEX

Kamis, 24 Januari 2008

Bamboe Shocking Film #5 - Mengusung Film-Film Pendek Kota Bercahaya


Ajang pemutaran film pendek bulanan di Kota Purbalingga, Bamboe Shocking Film (BSF), yang diselenggarakan Cinema Lovers Community (CLC) telah menginjak bulan kelima ditahun kedua.

Acara gratisan untuk menguji karya pembuat film lokal Purbalingga dan luar daerah ini hendak digelar Sabtu, 26 Januari 2008, pukul 19.30 WIB, di Cafe Bamboe, Jl. Jend. Sudirman No. 126 Purbalingga atau sebelah timur alun-alun Purbalingga.

Bamboe Shocking Film #5 mengusung 11 karya film pendek bergenre dokumenter, fiksi, dan filler pendidikan dari Kota Bercahaya. Kesebelas film itu bertajuk Waktu Habis, Anak Pejabat, Selalu Ada, Sisa Semalam, Gayatri, Estu, Dimana Tempatku, Kemenangan, Nilai 5, Makanya Belajar, dan Semangaaat!.

Film-film pendek yang sebagian hasil karya pelajar SMA Kota Cilacap ini merupakan kompilasi dari Komunitas Multimedia Sangkanparan Cilacap. Untuk itulah CLC merasa perlu membawa kompilsi film Cilacap ke ajang BSF.

Menurut Koordinator Komunitas Multimedia Sangkanparan Insan Indah Pribadi, komunitasnya terus menyebarkan pengaruh kepada anak muda Cilacap memanfaatkan waktunya untuk berkarya. ”Kami kerap mendatangi sekolah-sekolah di Cilacap, memutar film untuk memancing para pelajar mengapresiasi karya lokal atau teman-teman sendiri. Lebih menarik lagi ketika mereka berhasrat membuat film,” tuturnya.

Komunitas Sangkanparan yang merupakan anggota Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) ini tidak hanya menghasilkan karya-karya film pendek, tapi juga melakukan kerja-kerja fasilitasi pembuatan film pendek bagi anak muda Cilacap. Film-film Cilacap di bawah Sangkanparan ini juga kerap menghiasi berbagai ajang festival film di negeri ini.

Koordinator BSF Trisnanto Budidoyo mengatakan selama ini BSF tidak semata menjadi ajang uji kemampuan karya-karya film pendek Indonesia, namun juga menguji apresiasi masyarakat Purbalingga terutama anak mudanya. ”Anak muda Purbalingga sudah terlihat membutuhkan adanya media tontonan alternatif seperti BSF. Sebagian dari mereka selalu menanyakan dan menanti hadirnya pemutaran film,” kata Trisnanto. Bolex

Minggu, 06 Januari 2008

Kompetisi Film Dokumenter FORKAMI

Dalam rangka memperingati Hari Monitoring Air Sedunia, FORKAMI berinisiatif menyelenggarakan kompetisi film dokumenter. Tema kompetisi yang akan diselenggarakan pada Pertengahan Desember ini adalah "Manusia dan Air". Kompetisi film dokumenter ini merupakan bagian dari kampanye Selamatkan Airku 2007 atau Save Our Water Campaign 2007.
Kompetisi ini merupakan Kompetisi Film Dokumenter FORKAMI yang pertama dan dimaksudkan sebagai wadah bagi kalangan masyarakat yang memiliki hobi dan ketrampilan di bidang film untuk dapat menyumbangkan karyanya agar dapat menjadi bagian dari kampanye peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan. Selain itu, karya yang disumbangkan dan terpilih menjadi pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang sebesar 20 juta untuk pemenang pertama dan 15 juta serta 10 juta untuk pemenang kedua dan ketiga.
Sponsor ProgramSponsor acara ini merupakan organisasi, lembaga, agensi dan perusahaan swasta yang peduli pada permasalahan lingkungan pada umumnya serta air dan sanitasi pada khususnya. Di bawah ini adalah profil dari para sponsor program kampanye Selamatkan Airku 2007;
1. Water (Water and Sanitation Network) atau JAS (Jaringan Air dan Sanitasi).
2. ESP-USAID (Environmental Service Program - United States Agency for International Development).
3. TPJ (Thames PAM Jaya).
4. PALYJA (PAM Lyonnaise Jaya).

http://forkami.blogspot.com/

Selasa, 01 Januari 2008

Dua Film Karya SMK N 1 Purwokerto Dibuat di Purbalingga



Mendadak, suasana pasar Pengalusan, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga berbeda dari hari biasanya. Lebih ramai. Orang-orang desa berjajar di depan deretan kios dan pinggir jalan.
Pagi itu, Minggu (30/12), empat pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Purwokerto di bawah bimbingan Cinema Lovers Community (CLC) sibuk menggarap dua film sekaligus. Film fiksi bertajuk “Suparman” dan sebuah iklan layanan masyarakat berjudul “Kasih Ibu” yang semua pemainnya berasal dari Desa Pengalusan.

Pelajar yang semuanya remaja puteri dan duduk di kelas XII ini dalam rangka Praktek Kerja Industri (Prakerin) selama sebulan lebih sejak awal Desember 2007 lalu di Glovision Production, salah satu rumah produksi yang tergabung dalam CLC.

Film “Suparman” yang disutradarai Afrinda Pratama ini berkisah tentang sebuah peristiwa kesalahpahaman dari kata “parman”. Parman sebagai nama orang dan “pareman” yang dalam bahasa Banyumasannya berarti pupuran atau bersolek.

Suatu pagi, istri Bagyo, Sarinah yang berprofesi sebagai buruh pabrik terlambat datang ke pabrik. Setelah turun dari mobil angkot, Sarinah berjalan tergesa sambil memperbaiki dandanan wajahnya. Tanpa sepengetahuan Sarinah, Dikun yang teman berjudi Bagyo, melihat ketergesaan Sarinah.

Dalam obrolan Dikun dan Bagyo sembari berjudi, Dikun mengutarakan apa yang dilihat pagi itu pada Bagyo. “Inyong mau esuk weruh bojone rika mlaku gugup maring pabrik karo pareman” (Saya tadi pagi lihat istri kamu, berjalan tergesa ke pabrik sambil bedakan), demikian satu kalimat aduan dari Dikun pada suami Sarinah.

Sialnya, suami Sarinah mendengar ucapan kata “pareman” sebagai nama orang “Parman”. Dari sinilah konflik film ini. Film ini lahir menyusul karya-karya film lain dari Purbalingga yang mengangkat khas budaya Banyumasan, terutama kemasan tema yang diangkat dan bahasa yang dipergunakan.

Sementara untuk karya iklan layanan berjudul “Kasih Ibu” yang disutradarai Nia Mardiana mengisahkan seorang anak yang tidak banyak bersyukur dengan apa yang diberikan ibunya. Namun ketika ia menyadari setelah memandang lama fotonya masa kecil, tersadar bahwa kasih ibu sepanjang masa.

Afrinda Pratama, sutradara sekaligus penulis skenario film “Suparman” merasa meskipun praktek kerja sangat singkat tapi sangat banyak mendapatkan pengalaman. “Ilmu dan pengalaman yang diberikan teman-teman CLC tidak pernah kami dapatkan di sekolah selama ini,” ungkapnya.

Pun yang diungkapkan Nia Mardiana. Nia merasa semakin mantap dengan jurusan multimedia yang diambilnya. “Kami akan terus mencoba membuat film dan membagikan pengalaman ini pada teman-teman,” katanya.

Manager Program CLC, Bowo Leksono, mengatakan CLC terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar membuat film dari praproduksi sampai pascaproduksi, bahkan hingga urusan distribusi, tidak tertutup hanya pada anak-anak muda Purbalingga. “Membagi ilmu dan pengalaman membuat film adalah kewajiban kami agar perfilman di Banyumas terus berkembang,” tuturnya. Bolex

Sabtu, 29 Desember 2007

Film Banyumas Sepanjang 2007; Membanggakan tapi Belum Menggembirakan

”Televisi adalah sastra rakyat hari ini,” kata Garin Nugroho. Bila saat dimulainya revolusi Gutenberg, buku dinamai sebagai jendela dunia, peran itu kini telah diambilalih oleh televisi. Dan televisi sangat membutuhkan produksi beragam jenis tayangan, satu diantaranya sajian film. Akan tiba waktunya, film-film produksi berbagai komunitas lokal menghiasi layar kaca, berderet bersama film impor.
Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 ‘toh’ telah menetapkan sistem televisi jaringan yang mematok kian banyak tayangan lokal. Sehingga tentu membanggakan jika anak-anak muda yang lahir dari rumpun kebudayaan Banyumasan sudah mendahului jaman dengan memperkenalkan kategori Film Banyumas kepada publik. Setidaknya di tingkat nasional, dengan jumlah keikutsertaan festival film mencapai puluhan, film Banyumas tak luput dari perhatian.
Komunitas film yang secara samar mulai muncul di Purwokerto tahun 1999, kini telah menjadi jamak di Kabupaten Purbalingga dan Banyumas. Cilacap dan Banjarnegara, dengan jumlah komunitas yang lebih sedikit pun tak jemu-jemunya menggelar kegiatan. Keikutsertaan sineas Purbalingga pada Festival Film Eropa, dan undangan untuk Komunitas Sangkanparan dan sineas SMA 1 Cilacap di ajang Pusat Kebudayaan Prancis, menandai langkah maju di lingkungan penikmat film internasional.
Naif jika televisi menjadi satu-satunya tujuan produksi film lokal. Ajang eksebisi film, sistem distribusi mandiri dan festival film justru menjadi isu pokok yang kini digarap komunitas film. Sebagai produk alternatif dari industri film berskala raksasa, komunitas film juga menawarkan idealisme tertentu.
Manajer Program Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, Bowo Leksono mengusung isu membangkitkan kembali kecintaan pada bahasa beserta aspek budaya Banyumasan. Insan Indah dari Sangkanparan Cilacap lebih menjadikan film lokal sebagai alternatif tontonan dari tayangan tak membumi televisi nasional. Hadir pula kelompok produksi film yang lebih bersifat komersil, dan tidak berkaitan dengan kerja-kerja komunitas film.
Infrastruktur Minim
Sementara disisi lain, fakta bahwa begitu banyak persoalan yang membelit insan film tidak dapat ditampik. Pegiat film beserta produksinya masih berada di menara gading, alias sulit direngkuh khalayak awam. Sampai-sampai, di sebuah forum film, pegiatnya tak bisa memilah pengertian antara film dokumentasi dengan film dokumenter. Wacana film di Banyumas masih ‘diawang-awang’ . Itu akibat jumlah sumber daya yang dapat dikatakan masih sangat terbatas. Sama terbatasnya dengan infrastruktur yang juga masih minim. Masing-masing kelompok dan individu harus berjibaku mengelola dana, dan belum sanggup mengusaikan kerja edukasi secara lebih masif.
Kehadiran Festival Film Banyumas (FFB) yang untuk kali pertama digelar Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) menjadi salah satu penanda kepercayaan terhadap film Banyumas. Lepas dari berbagai kelemahan, ajang itu diharapkan bisa memantik semangat produksi. Sementara perubahan forum komunikasi antarkomunitas di eks Banyumas menjadi asosiasi film bernama Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) juga menjadi tonggak sejarah baru. Sejauhmana kinerja asosiasi yang diantaranya dibesut oleh perintis komunitas film pendek di Banyumas Besar masih terlalu dini dievaluasi. Yang jelas, tumbuhnya sejumlah ‘pusat’ -pusat baru kegiatan film di Banyumas Besar diharapkan mampu mendorong percepatan perkembangan film daerah. Dan tahun 2008 mendatang, menjadi batu ujian kesinambungan kiprah komunitas film Banyumas. (H39*)

Suara Merdeka, Jumat 27 Desember 2007

Kamis, 20 Desember 2007

BSF Suguhkan Film Terbaru

Di penghujung tahun 2007, Bamboe Shocking Film (BSF) ke-4 tampil dengan tiga film anyar karya anak-anak muda Kota Perwira. “Foto”, “HOP”, dan “Bunga Terakhir”, demikian judul ketiga film itu.
BSF, program bulanan yang digelar Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga ini akan menyapa pecinta sinema pada Sabtu, 22 Desember 2007, pukul 19.30 WIB, di Cafe Bamboe, Jl Jend. Sudirman No 116 atau sebelah timur alun-alun Purbalingga.
Menjadi (seperti) dewasa, dengan melakukan hal-hal yang dikerjakan kaum dewasa menjadi latar dalam film “Foto” dan “HOP”. Kedua film ini adalah sebagai wujud kecintaan pembuat film terhadap profesi dan tentu buah hatinya.
“Foto” bercerita tentang sebuah studio foto dengan segenap aktivitasnya. Datang pelanggan, bergaya, hasil foto diedit, dicetak lalu, bayar langsung. Tidak ada yang kebaruan dalam film garapan sutradara Ayun ini, namun yang istimewa adalah para pemainnya, anak-anak di bawah umur.
Pun demikian dalam film “HOP”. Bagaimana seorang balita (bawah lima tahun) mengendarai sebuah mobil seperti layaknya orang dewasa. Berkeliling kota dan bergaya ketika masuk komplek perumahan.
Berbeda dengan “Foto”, dalam “HOP” terdapat konflik yang dimunculkan. Bagaimana anak-anak yang tinggal di komplek perumahan bermain dengan hal yang menantang dan cenderung membahayakan diri mereka. Mendorong mobil beramai-ramai tanpa berpikir risiko. Namun dengan cara mereka
“Dunia anak-anak adalah dunia bermain-main yang menyenangkan dan kerap tidak memikirkan risiko dengan permainan yang membahayakan. Tapi tidak jarang pula mereka mampu menyelesaikannya sendiri dengan pengetahuan dan cara-cara mereka,” tutur Uswantoro, sang sutradara mengomentari film terbarunya.
Ceria, lucu, dan menggemaskan. Demikian kesan yang terdapat pada kedua film ini. Sementara “Bunga Terakhir” buatan pelajar SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga juga tampil dengan dunia mereka, remaja, yang sebenarnya jauh dari realita remaja-remaja di kampung. Apapun, film ini menambah warna bagi perfilman di Purbalingga.
Bamboe Shocking Film (BSF) yang sudah empat kali berjalan menjadi ajang pemantik bagi anak-anak muda Purbalingga dan Banyumas umumnya, dalam menggemari dan mengembangkan hobi dibidang film. “Disamping ajang apresiasi, BSF juga sebagai pemanasan untuk ajang terbesar di Purbalingga yaitu Parade Film Purbalingga (PFP) yang segera hadir ditahun 2008,” tutur penanggung jawab program BSF, Trisnanto Budidoyo. Bolex

Minggu, 16 Desember 2007

Nonton Komidi Sorot di Banyumas

Putu Fajar Arcana KOMPAS Minggu, 16 Desember 2007

Siapa pernah menyangka jika di satu wilayah yang dianggap jauh dari jamahan industri budaya pop meluncur sebuah festival film. Karnaval Film Pendek Banyumas 2007 pada 7 Desember lalu, yang memutar film-film karya para pekerja film asal Cilacap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara, seperti menjadi wahana baru menyatakan diri.

Direktur Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) Sigit Harsanto menuturkan, sebagian besar film-film yang diproduksi di wilayah mereka berangkat dari realitas kultural lokal yang khas dan unik. ”Hampir semua menggunakan bahasa Banyumasan,” ujar Sigit. Film-film itu diputar berdampingan dengan film-film produksi Eropa dari desa ke desa. Jika kebanyakan orang menyebut istilah layar tancep untuk menonton film, di wilayah sekitar Banyumas disebut komidi sorot. ”Penontonnya bisa ratusan, bahkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan pemutaran di kampus,” kata Sigit.

Dalam waktu yang nyaris berbarengan digelar pula festival-festival film dalam skala lebih besar dan mapan, seperti Jakarta International Film Festival (JiFFest), Festival Film Indonesia (FFI) di Riau, dan Festival Film Dokumenter (FFD) di Yogyakarta. Sebelumnya juga sudah digelar Jogja- NETPAC Asian Film Festival di Yogyakarta, Festival Film Asia Afrika, Queer Film Festival, dan LA Light Indie Movies di beberapa kota. Bahkan, jaringan bioskop teranyar Blitzmegaplex merasa perlu melakukan hal sama. Mereka, misalnya, menggelar Screamfest Indonesia, Festival Film Fantastik, dan Festival Film Korea.

Festival paling menonjol sepanjang tahun tentu saja JiFFest yang dimulai tahun 1999. Festival ini berhasil menjadi pelopor mendobrak hegemoni tontonan. Mereka membawa film-film alternatif yang selama ini tidak pernah beredar dalam ranah tontonan film di Indonesia. Selain membawa film-film Eropa, festival ini juga memutar film-film dari Asia Timur dan Asia Tengah yang tidak mendapatkan porsi layak di gedung bioskop.

Penampilan film-film alternatif itu, kata Direktur JiFFest 2007, Lalu Roisamri, dimaksudkan untuk mendidik konsumen dan meningkatkan apresiasi masyarakat umum terhadap film. ”Pada akhirnya akan terjadi apresiasi terhadap film nasional,” ujar Roisamri. Tahun lalu festival ini berhasil menjaring tak kurang dari 63.000 penonton. Bahkan, menurut Roisamri, telah ada sekitar 5.000 penonton tetap. ”Mereka minimal menonton satu film tiap hari,” katanya. Tahun ini dengan budget yang berkurang sekitar 10 persen, mereka menargetkan penonton minimal 60.000 dalam perhelatan yang berlangsung pada 7-16 Desember 2007 itu.

Pada Senin (10/12) lalu, penonton juga berduyun-duyun memasuki Benteng Vredeburg Yogyakarta. Hanya beberapa menit ruangan audio-visual di benteng itu terasa sesak. Mereka rela berdesak-desakan untuk menonton pemutaran film Paper Can Not Wraps Embers, film dokumenter besutan sutradara Rithy Panh dari Kamboja. Di tempat itu memang sedang berlangsung FFD. ”Apresiasi penonton di Yogyakarta terhadap film cukup tinggi,” ujar Direktur FFD 2007 Dwi Sujanti Nugraheni.

Hegemoni
Menurut sutradara Garin Nugroho yang juga Direktur Jogja-NETPAC Asian Film Festival, festival film yang belakangan menjamur di negeri ini pertama-tama adalah upaya menjawab keberagaman teknologi dalam industri kebudayaan.
”Ini era di mana pernyataan diri lewat komunitas menjadi begitu penting,” katanya. Realitas ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia. Setiap tahun tak kurang terjadi 300 festival film.

Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Marselli Sumarno menambahkan, festival film sudah mentradisi di Amerika dan Eropa. Selain ada Oscar yang dimulai tahun 1927, ada pula New York Film Festival dan Chicago Film Festival. ”Ini masing-masing dibuat oleh komunitas dengan pandangan khusus," tuturnya.

Kritikus film Seno Gumira Ajidarma melihat banyaknya festival film itu sebagai wacana kebudayaan, yakni terjadinya demokratisasi dalam politik sinema. Orang-orang yang dulu hanya jadi penonton kini bisa melahirkan film sendiri dan menggelar festival sendiri. ”Sebagian festival merupakan perlawanan terhadap wacana dominan yang dulu dihegemoni pemerintah,” ujarnya.

Memang, dulu FFI tidak boleh memiliki saingan. Pemerintah Orde Baru begitu gerah ketika di Bandung diadakan kegiatan yang menggunakan nama festival. ”Pemerintah berusaha menjaga kebenaran tunggal,” tambah Seno. Reformasi kemudian tak hanya memecah kebuntuan secara politik, tetapi juga menggerus hegemoni industri kebudayaan. Teknologi digital harus diakui telah memberi andil besar di dalam membahasakan identitas lokal, sampai ke pelosok dusun-dusun.

Orang-orang di sekitar Banyumas, menurut Sigit, sekarang sungguh gembira jika menyaksikan film yang menggunakan bahasa mereka sendiri. Ekspresi dengan bahasa lokal yang dimungkinkan teknologi digital itu seakan telah membebaskan satu entitas subkultur Jawa yang selama ini senantiasa hidup dalam bayang-bayang.

Garin Nugroho membahasakan ini dengan mengatakan, ”Komunitas menjadi tempat berkumpul, mempertahankan diri, membentuk dunia bersama, yang sekaligus bisa menjadi gaya hidup dan ekonomi.” Artinya, festival yang ada sekarang tidak sekadar euforia sebagaimana kuda lepas dari tali kekang. Festival film, selain sebagai medium hiburan dan penyaluran hobi, telah pula menjadi bahasa baru bagi entitas kultural untuk mengidentifikasi, menyatakan diri, dan sekaligus mempertahankan diri dari kemungkinan terabaikan.

Film tidak lagi dinikmati sekadar ”komidi sorot” ketika tiada alternatif lain untuk memperoleh hiburan yang segar dan renyah, tetapi menjadi ruang ekspresi untuk menangkap fenomena sosial dan kultural di sekitar situs hidup satu komunitas…. (YOP/IAM/DHF/IVV)
Merayakan Keberagaman
Berbarengan dengan penggelindingan wacana postmodernisme, realitas multikulur tak lagi sekadar hadir di ruang-ruang seminar. Film yang tadinya identik dengan ekspresi eksklusif masyarakat urban perkotaan diadopsi pula oleh masyarakat yang secara kultural "sangat" terpencil. Realitas itu dipermudah oleh teknologi digital yang makin murah dan beragam. Untuk membuat film, misalnya, orang hanya butuh satu handycam dan laptop. Dengan sedikit penguasaan teknik, film yang disimpan dalam cakram CD sudah bisa diputar dari dusun ke dusun, bahkan sampai ke Eropa.

Pada subkultur Jawa, seperti eks-Karesidenan Banyumas yang meliputi wilayah Cicalap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara, sejak tahun 2001 sudah terdapat aktivitas komunitas penikmat dan pembuat film-film pendek. Bahkan, pada 7 Desember lalu, Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) membuat festival bernama Karnaval Film Pendek Banyumas. Di situ tidak saja ditampilkan film-film pendek lokal karya mereka, tetapi juga mendatangkan langsung film-film dari Eropa. "Kami impor langsung dari Eropa dengan maksud membuat perbandingan bagi pekerja film lokal," ujar Direktur JKFB Sigit Harsanto, Kamis (13/12).

Harus pula diakui banyak festival film di daerah lahir setelah sekelompok pencinta dan pekerja film menggelar JiFFest tahun 1999. JiFFest ibarat anak kunci untuk membuka pintu, untuk merayakan keberagaman. Film- film yang tadinya dianggap "tabu" lantaran sistem monopoli, baik secara ekonomi maupun selera, tiba-tiba hadir di hadapan penonton.

Selain festival-festival yang bersifat "kedaerahan", jaringan bioskop terbaru seperti Blitzmegaplex menyodok dengan mengadakan berbagai festival. Mereka menggelar Festival Film Korea dan Screamfest Indonesia, serta dalam waktu dekat menggelar festival film anak. Bahkan, Departemen Luar Negeri merasa perlu pula menggelar festival film. Pada 6-8 Desember 2007, menurut Direktur Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Umar Hadi, mereka menggelar Festival Film Asia Afrika.

Secara tidak langsung festival film membuat segmentasi pada tingkat konsumen. Dan itulah yang menurut Garin Nugroho menjadi ciri khas masyarakat dewasa ini. Komunitas menjadi begitu penting diperjuangkan, dipelihara, dan bahkan dipertahankan karena dalam komunitas itulah orang merasa bebas berekspresi tanpa merasa berbeda.

Dengan begitu, perayaan terhadap keberagaman sebagaimana yang telah dicapai sekarang adalah relasi-relasi dalam dan antarkomunitas untuk menyikapi perkembangan industri kebudayaan yang didorong teknologi digital dan medium ekspresi di tengah serbuan globalisasi yang dapat menyeragamkan selera. (IVV/DHF/IAM/YOP/CAN)