Kamis, 23 Januari 2014

Keluarga Penderes dan Pengidep


Sepulang menjual gula merah, Suwitno (41) menghampiri Suwini (39), istrinya, saat sedang memasak mi instan di dapur untuk sarapan anak-anak mereka. Witno duduk lalu mengeluarkan uang Rp 60 ribu dari sakunya dan diberikan pada Wini.

Pagi itu, seperti biasa, tidak banyak gula merah (jawa) yang mereka hasilkan dari 21 pohon kelapa yang disewa untuk dideres. Harga gula merah seperti tidak pernah berpihak pada keluarga para penderes (pengambil air nira).

“Ujarku rega gula ajeg bae kawit gemiyen ya? Padahal rega sembako ya mundak terus. (Saya kira harga gula merah tidak pernah naik sejak dulu ya? Padahal harga sembako naik terus),” tutur Wini. “Ya ngkana-ngkanane mestine ana sing ngatur. Dewek si gari nrima tok. (Ya disana mestinya ada yang mengatur. Kita tinggal nerima saja),” sela Witno.

Witno dan keluarga tinggal di RT 10 RW V Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari, Purbalingga. Mereka dikaruniai tiga anak, Elma Patiti (18) yang hanya sampai lulus SMP dan saat ini membantu orang lain berdagang di pasar, Julita Purwaningsih yang duduk di kelas VI SD Candiwulan, dan Khayan Qibatun Aizi yang masih berusia tiga tahun.

Selain sebagai buruh tani, mayoritas profesi warga di wilayah Kecamatan Kutasari adalah penderes. Jauh dari cukup pendapatan mereka dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Untuk itu, seorang istri harus mampu membantu suami mencari tambahan pendapatan.

Seperti yang dilakukan Wini dan kebanyakan perempuan di Kutasari bahkan di wilayah Purbalingga lain, yaitu dengan cara mengidep (membuat bulu mata palsu). Satu bulu mata palsu yang Wini rangkai diharga Rp 500. Sebulan ia hanya mampu memperoleh upah sekitar Rp 150 ribu.

Tidak ada waktu luang bagi Wini sebagai seorang ibu rumah tangga. Disamping sebagai pengidep, otomatis ia juga pengidel, yaitu istri yang membantu suami seorang penderes. Pengidel bertugas memasak nira hingga menjadi gula merah siap jual.

Sebelum Witno berangkat menderes pagi hari, Wini menyiapkan sarapan dengan nasi sisa semalam. “Beras Raskin ya urung teka-teka. Apa anu agi nggo mbantu korban banjir ya? (Beras jatah orang miskin ya belum datang. Apa buat membantu korban banjir ya?),” tanya Wini dengan segenap ketakpahamannya.

Oleh:
Achmad Ulfi dan Lutfi Utami, pelajar SMA Kutasari Purbalingga

Minggu, 19 Januari 2014

Hati Hati Isu Kelangkaan Pupuk

Salam Indonesia,
Awal tahun 2014 pasti sangat banyak ragam dan cara-cara untuk memasarkan produk pertanian. Tapi alangkah tepatnya agar para produsen memberikan uraian tentang produk yang mereka jual, agar nantinya para pemakai produk tidak kecewa setelah menggunakanya. Kali ini para petani dan pengecer pupuk harap berhati-hati dengan isu-isu negatif yang mungkin juga didaerah anda sudah berkembang. 
Ada isu kelangkaan pupuk ?
Benar pa tidak ? kita tidak usah terlalu mempermasalahkanya,

Sebaiknya kita menanggapi dengan kepala dingin. Contoh nyata ditempat saya ada seorang pengecer pupuk yang katanya sudah mendapatkan kiriman pupuk mirip dengan NPK. Pengecer tesebut tidak mengetahui tentang produk pupuk ini, alhasil ada sebagian petani yang memakainya. Setelah saya datangi ternyata petani ini mendengar isu kelangkaan pupuk, akhirnya membeli pupuk jenis ini, petani ini mengira pupuk ini mirip dengan pupuk NPK pada umumnya warnaya merah hampir sama tetapi, tanpa melihat dan menanyakan kandungan didalam pupuk itu.

Pupuk ini tergolong baru ditempat saya agar kita tidak salah pilih mari kita simak bersama-sama. Pupuk NPK standar yang beredar di pasaran mempunyai kandungan N 15 %, P 15 , K 15 %. kita lihat gambar berikut ;
Gambar. NPK yang biasa petani Pakai Urea !5 %

Gambar. Bukan Pupuk NPK Phonska kandungan Urea 1 %

pupuk ini mempunyai kandungan yang berbeda, jadi saran saya hati-hatilah dalam membeli pupuk, bisa jadi gambar diatas adalah pupuk yang lain. Berikanlah tanaman anda dengan pupuk kimia secara bijaksana, perbanyak pupuk organik kurangi pupuk kimia Artikel yang sama juga bisa dilihat di Hati-hati terhadap pupuk, Kemasan baru pupuk pertanian  

Produksi Dokumenter SMA Bukateja Purbalingga


Selama beberapa malam, di sebuah balai rumah limasan, para remaja dan pemuda Desa Pasunggingan, Kecamatan Pengadegan, Purbalingga kembali berlatih tarian Angguk, salah satu kesenian tradisi Banyumas yang nyaris punah.

Sementara orang-orang tua, yang sebagian bahkan berusia lebih dari 60 tahun bertindak sebagai penabuh dan pelantun syair-syair yang diambilkan dari kitab Barzanji. Alat-alat musik yang ditabuh berupa genjring, jidur, dan kendang.

Proses berlatih kesenian langka bernapas islami itu merupakan bagian dari pengambilan gambar film dokumenter yang dilakukan pelajar yang tergabung dalam Sabuk Cinema ekstrakulikuler sinematografi SMA Bukateja Purbalingga selama tiga hari, Jumat-Minggu, 17-19 Januari 2014.

“Senang rasanya bergaul siang-malam dengan anak-anak muda seusia kami yang masih mau dan bersemangat menari seni tradisi. Ini salah satu alasan kami mendokumenterkan mereka,” tutur Tito Firesta, salah satu kru yang melakukan riset.

Saat ini, Martoyo (70), adalah pimpinan grup Angguk “Sri Rahayu” Desa Pasunggingan yang merupakan turunan ketiga. Keberadaan kesenian langka itu sudah ada sejak zaman Belanda. Meski sulit, regenerasi terus dilakukan.

Selama beberapa bulan terakhir, para pelajar itu melakukan riset. Bolak-balik ke desa, menemui dan bergaul dengan para pelaku kesenian Angguk. Mereka mengambil data kesenian Angguk dari Perpustakaan Film dan Buku Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB).

Menurut Uli Retno Dewanti, yang bertindak selaku sutradara, memfilmkan kesenian langka ini merupakan pengalaman tersendiri. “Tidak semata hasilnya, tapi proses kami bergaul dan berada di tengah-tengah masyarakat pecinta dan pelaku seni tradisi,” ungkap siswi yang masih duduk di kelas X ini.

Sementara guru pembina ekskul sinematografi Meinur Diana Irawati mengatakan, produksi film dokumenter ini menjadi penting karena melatih siswa bergaul dan mempelajari masyarakat dengan cara terjun langsung. “Hal ini yang tidak mereka dapatkan dalam pelajaran formal, karna itu ekskul sinema dibutuhkan,” jelas guru pengampu pelajaran Ekonomi.

Bila film dokumenter tentang Angguk ini selesai, rencananya akan diikutsertakan pada program kompetisi dokumenter tingkat Banyumas Raya di Festival Film Purbalingga (FFP) pada Mei mendatang.

Selasa, 14 Januari 2014

Angguk, Kesenian Langka Bernapas Islam


Mengisi hari-hari tua, Maryoto (70), dalang kesenian Angguk asal Desa Pasunggingan, Kecamatan Pengadegan, Purbalingga ini dengan cara bertani. Sejatinya, bertani bagi Maryoto dan sebagian anggota grup kesenian Angguk adalah pekerjaan utama, sementara berkesenian hanya sampingan.

Kesulitan air bagi warga Pengadegan pada umumnya mengakibatkan pertanian yang dikerjakan adalah berkebun dengan tanaman singkong dan jagung, bukan pertanian padi. Tidaklah luas tanah pertanian yang dikerjakan Maryoto yang merupakan tanah turun-temurun.

Tak hanya tanah yang diwariskan, Maryoto pun mewarisi kesenian langka Angguk yang sudah ada sejak zaman Belanda di desanya dari kakek dan bapaknya. “Saya ini generasi ketiga yang menjalankan seni Angguk. Sebelumnya bapak saya Ahmad Roji dan kakek saya Asep Wijaya,” tutur kakek yang mempunyai 5 anak dan 10 cucu ini.

Kesenian Angguk merupakan kesenian bernapaskan Islami. Ciri-cirinya dengan gerakan penari yang berjumlah delapan orang dengan gerakan mengangguk-angguk. Konon, anggukan merupakan bentuk penghormatan kaum muslim saat mereka saling bertemu. Selain itu, alat musik untuk mengiringi tarian berupa rebana, bedug, dan kendang. Sementara syair-syair yang dilantunkan diambil dari kitab Barzanji.

Tarian Angguk ini dibawakan oleh delapan penari yang semuanya laki-laki. Dua penari dibagian depan disebut barong atau mbarep, empat penari tengah prajurit, dan dua penari belakang dinamakan buntil. Khusus penari buntil diperankan oleh anak-anak atau remaja.

Regenerasi
Keterlibatan anak-anak dalam kesenian Angguk ini, meyakinkan Maryoto, bahwa kesenian langka peninggalan nenek moyang ini akan mampu bertahan. Kerap anak-anak SD atau SMP main ke rumah Maryoto yang sekaligus sebagai sanggar seni Angguk “Sri Rahayu”.

“Mencari pemain Angguk caranya ya dengan merayu anak-anak yang suka main ke rumah. Kalau mereka suka, tinggal menemui orang tuanya. Seringkali anaknya ingin bermain Angguk tapi orang tuanya yang tidak setuju, atau sebaliknya,” ungkap Maryoto yang juga bertindak sebagai dalang Ebeg.

Saat ini, penari Angguk yang berperan sebagai buntil yaitu Gilang Pratama yang sudah duduk di bangku kelas XI SMKN Bawang Banjarnegara dan Kris Egianto yang masih duduk di kelas IX SMPN 3 Pengadegan Purbalingga.

Menurut Kris Egianto, awal bergabung dengan grup Angguk “Sri Rahayu” beberapa bulan lalu karena kerap bermain ke rumah Maryoto yang memang tak jauh dari rumahnya. “Kadang melihat mereka latihan, saya seperti jatuh cinta pada kesenian Angguk. Orang tua saya setuju dan mendukung saya bergabung,” jelas remaja yang juga suka bermain sepakbola.

Tidak ada rasa khawatir di wajah Maryoto, kesenian langka Angguk ini akan punah. Mata batinnya mampu melihat anak-anak yang akan bergabung dan meneruskan kesenian Islam ini. Karena itu, salah satu usaha Maryoto dengan memperbaharui gerakan dan cara menabuh alat musik agar lebih dinamis.

Oleh: Tito Firesta, Uli Retno Dewanti, Nugroho Budi Santosa
Pelajar SMAN Bukateja Purbalingga

Senin, 13 Januari 2014

Produksi Dokumenter SMAN Rembang Purbalingga


Mendung kerap menyelimuti langit Panusupan. Selama beberapa hari pelajar SMA Negeri Rembang Purbalingga berada di desa yang terletak di Kecamatan Rembang, Purbalingga itu jarang memjumpai langit cerah.

Pelajar yang tergabung dalam Pak Dirman Film ekstrakulikuler sinematografi itu sedang memproduksi film dokumenter Lengger Lanang. Harapannya, kesenian tradisi Desa Panusupan yang sudah turun-temurun ini bermasa depan cerah.

“Setidaknya kami berusaha mendokumenterkan kesenian langka ini bagi generasi kami dan setelah kami, agar bisa terus diketahui dan dipelajari,” ujar Anastasya Dyah Tyas Utami, yang bertindak selaku sutradara.

Lengger, kesenian khas tlatah Banyumas, pada awalnya adalah laki-laki. Dalam perkembangannya, peran lengger tergantikan oleh perempuan dengan segenap cerita yang melatarinya.

Ada banyak jenis iringan kesenian lengger di Banyumas, yang terpopuler dengan alat musik calung. Sementara untuk lengger lanang di Desa Panusupan dengan iringan musik angklung ditambah gong bambu dan kendang.

Menurut salah satu kru produksi, Lilit Widiyanti, membuat film dokumenter lengger lanang berangkat dari data kesenian langka yang dimiliki Perpustakaan Film dan Buku Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB). “Kami langsung datang ke Desa Panusupan menemui salah satu pemuda untuk menggali informasi kemudian selama beberapa pekan kami melakukan riset,” ungkap periset yang masih duduk dibangku kelas X ini.

Setelah riset dirasa usai, para pelajar itu membuat jadwal pengambilan gambar selama tiga hari, 11-13 Januari 2014, dengan cara menginap untuk lebih mendekatkan dengan subyek dan warga desa. Kesenian langka yang sudah lama tak dipentaskan ini pun tampak bergairah kembali, meski pemangkunya berusia kisaran 45-90 tahun.

Pembina ekskul sinema SMAN Rembang Purbalingga, Puji Rahayuning Pratiwi, S.Pd., mengatakan program ekskul sinema berupa produksi dokumenter ini bagian dari kepedulian sekolah dan melatih kepekaan pelajar “Ada beberapa seni tradisi langka khususnya di Kecamatan Rembang yang harus didata dan didokumenterkan. Ini menjadi tugas kami,” jelasnya.

Rencananya, film dokumenter berdurasi pendek ini hendak diikutsertakan pada kompetisi pelajar Banyumas Raya Festival Film Purbalingga (FFP) 2014 yang akan digelar pada Mei mendatang.

Selasa, 07 Januari 2014

Lengger Lanang yang Tersisa dari Panusupan


Manarwi (80) ditemani istrinya Karsiem (75) duduk dan berbincang santai di sebuah risban (bangku panjang) di dalam rumah mungil berdinding bambu. Di depan mereka, secangkir teh pahit untuk berdua.

Demikian kebiasaan Manarwi dan istri tercinta dalam mengisi hari-hari tuanya. Manarwi adalah salah satu penari Lengger Lanang (lengger laki-laki) yang masih tersisa dari Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

“Sedurunge nyong, ana Kaki Wasidin sing uga dadi lengger. Ning wis lawas ora nana. Nek siki ya urung ana sing nerusna, merga urung ana indang sing mencrok,” ujar Manarwi. (Sebelum saya, ada Kakek Wasidin yang juga jadi lengger. Tapi sudah lama meninggal. Kalau sekarang belum ada yang meneruskan, karena belum ada ‘indang’ yang menghampiri)

Manarwi, kakek yang mempunyai 5 anak, 10 cucu, dan 6 buyut ini sudah menari lengger sejak usia 10 tahun. Saat itu, ada tokoh bernama Santabesari yang berhasil melihat ‘indang’ lengger dari Pegunungan Lawet jatuh di rumah Manarwi. Kemudian oleh Kasanom, pimpinan lengger saat itu, Manarwi kecil diajak latihan ‘njoget’ lengger.

Dalam hitungan hari, Manarwi mampu menguasai gerakan-gerakan dan lagu-lagu lengger, karena lengger lanang tidak hanya mampu menari, tapi juga harus mampu menyanyi. Sementara pengiringnya berupa alat musik angklung berjumlah 14 angklung yang dimainkan oleh 3 orang, satu gong bumbung (gong bambu), dan satu kendang. Dulu masih ada satu orang penari yang bertindak sebagai badut bernama Kolor, namun sudah meninggal.

Manarwi adalah generasi ke-5 lengger lanang di tlatah Panusupan. Ia bertindak seperti perempuan hanya saat di atas pentas. Dalam kehidupan sehari-hari, ia tetap sebagai lelaki biasa. Dahulu, di atas panggung, paras dan auranya sangat memikat, gerakan tari lenggernya sangat gemulai.

“Gemiyen sing pada kesengsem maring nyong ya ana sing kasi pitung ndina pada ora gelem bali, padahal tanggapan lenggere wis rampung,” ungkap lengger yang sudah tak berambut panjang ini. (Dulu yang suka sama saya ya ada yang sampai tujuh hari tidak mau pulang, padahal tanggapan lengger sudah selesai).

Pentas Sakral
Saat ini, Lengger Lanang Desa Panusupan yang sudah ada sejak zaman Belanda dipentaskan untuk kebutuhan yang sakral atau ruwatan. Selebihnya, lengger bisa dipentaskan atau ditanggap bagi kepentingan hajatan.

Menurut Tarsini (57), pimpinan kesenian lengger lanang, seringnya lengger ditanggap untuk kepentingan ruwatan. “Seperti ruwat bumi bagi petani yang tanaman padinya diserang hama atau ruwat anak yang sakit-sakitan agar diberi kesembuhan,” jelas pesinden yang juga pimpinan kelompok kesenian Ebeg Turangga Seta Desa Panusupan ini.

Karena itu, lengger lanang kerap ditanggap oleh para petani dan manggung di tengah persawahan dimana tanaman-tanaman padi milik petani diserang hama. “Mementaskan lengger itu sarana memohon kepada Yang Kuasa agar kesulitan-kesulitan yang kita alami bisa teratasi,” jelas Tarsini.

Sejak dulu, keberadaan kesenian lengger sangat dekat dengan kehidupan petani. Seiring kemajuan zaman, berkembangnya desa menjadi kota, menyempitnya tanah pertanian karena bangunan pabrik dan perumahan, berakibat kesenian tradisi sulit bertahan.

Oleh: Wendro Tanjung, Lilit Widiyanti, dan Anastasya Dyah Tyas Utami
Pelajar SMAN Rembang Purbalingga