Tampilkan postingan dengan label TEKNOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEKNOLOGI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

Cara Panen Buah Dukuh Ala Wong Tani

Salam Pertanian,
Alhamdulillah dimusim kedua ini di Banyumas sedang mulai bermunculan buah dukuh, setelah pendahulunya masyarakat di manjakan dengan rambutan, kemudian mangga, tibalah saatnya buah dukuh yang saat ini mulai naik daun. 

Buah dukuh selain rasanya yang segar, dukuh juga digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Kulit dan biji duku digunakan sebagai obat diare dan demam, sedangkan kulit kayunya bisa digunakan untuk menyembuhkan disentri. Kayu pohon duku juga sering dimanfaatkan sebagai perabotan rumah tangga. Sedangkan pada dunia pertanian biji dukuh yang terkenal rasanya yang pahit bisa digunakan sebagai pestisida nabati untuk hama sejenis insektisida.

Biasanya dukuh mulai berbunga pada bulan September dan Oktober lalu panen pada bulan Februari dan Maret. Penyerbukan bunga dilakukan oleh lebah maupun serangga lainnya. Waktu panen buah dukuh berbeda-beda di tiap daerah. Cara panen buah dukuh dimasing-masing daerah berbeda, tapi untuk kali ini pemanenan buah dukuh melalui pengalamn petani ini tergolong simple, sulit tapi memiliki efek positif  untuk pemanenan buah dukuh yang akan datang. 

Pertama cari cabang buah dukuh yang akan di panen 


Petiklah ujung buah dukuh dengan tangan, gunting atau alat lainnya
* Garis berwarna merah

Jangan memotong buah beserta ujung tangkai penopang buah * Garis berwarna merah
Karena pada tangkai ujung penompang buah pada panen buah dukuh selanjutnya akan menyebabkan penurunan produksi buah, buah dukuh yang tadinya bergerombol dan banyak akan berkurang.

 
Cara panen diatas tergolong sulit, tapi kalo kita berfikir mencicipi buah dukuh sekaligus menjual buah dukuh, hal ini tidak ada ruginya. Buah dukuh setelah kita panen, diamkan terlebih dahulu hingga jetah pada buah dukuh berkurang, sebelum kita konsumsi sehingga buah dukuh tidak lengket pada waktu kita makan.

By; Yusuf Himura

Rabu, 19 Maret 2014

VARIETAS UNGGUL KEDELAI

WILIS (1983)
Potensi Hasil 2,5 ton/ha
Umur Panen 85-90 hari
Biji sedang (10 g/100 biji)
Agak tahan terhadap karat daun dan virus


ANJASMORO (2001)
Potensi hasil 3,7 ton/ha
Umur Panen 82-92 hari
Biji sedang (16 g/100 biji)
Tahan rebah polong tidak mudah pecah Agak tahan karat daun



 

Grobogan (2008)
Potensi hasil 3,4 ton/ha
Umur Panen 76 hari
Biji sedang (18 g/100 biji)
Saat panen 95 % daun luruh
Sesuai untuk ditanam di lahan kering pada awal musim hujan



By Yusuf Himura

Sabtu, 26 Maret 2011

CARA PENGAIRAN BERSELANG PADA PADI SAWAH

Pengairan berselang atau disebut juga intermitten adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian untuk:
  • Menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi menjadi lebih luas.
  • Memberi kesempatan kepada akar untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam.
  • Mencegah timbulnya keracunan besi.
  • Mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar.


Pengairan berselang memberi kesempatan kepada akar untuk berkembang lebih baik.

Pengairan berselang mengurangi kerebahan.

Mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat.

• Mengurangi kerebahan.

• Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah).

• Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen.

• Memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah).

• Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus.


Dalam melakukan pengairan berselang perlu dipertimbangkan bahwa cara ini dilakukan bergantung pada:

• Jenis tanah; tanah yang tidak bias menahan air sebaiknya hati-hati dalam menerapkan cara pengairan berselang; demikian pula jenis tanah berat.

• Pola pengairan di wilayah setempat; kalau pengairan sudah ditetapkan berselang setiap 3 hari maka pola pengairan yang sudah ada ini saja yang diikuti.

• Pada lahan sawah yang sulit dikeringkan karena drainase jelek, pengairan berselang tidak perlu dipraktekkan.

Di tempat-tempat yang sulit dikeringkan karena drainase jelek, pengairan berselang tidak perlu dilakukan.


Cara pengairan berselang:

• Tanam bibit dalam kondisi sawah macakmacak.

• Secara berangsur tanah diairi 2-5 cm sampai tanaman berumur 10 hari.

• Biarkan sawah mengering sendiri, tanpa diairi (biasanya 5-6 hari).

• Setelah permukaan tanah retak selama 1 hari, sawah kembali diairi setinggi 5 cm.

•Biarkan sawah mengering sendiri, tanpa diairi (5-6 hari) lalu diairi setinggi 5 cm.

Pengairan berselang memerlukan pengaturan kapan lahan digenangi dan dikeringkan.

• Ulangi hal di atas sampai tanaman masuk stadia pembungaan.

• Sejak fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan terus diairi setinggi 5 cm, kemudian lahan dikeringkan.

Sepuluh hari sebelum panen lahan dikeringkan.

Pembuatan Pakan Ternak

Pembuatan pakan lengkap di Kelompok Tani Ternak Kambing PEGUMAS Desa Gumelar Kecamatan Gumelar :

BAHAN
1. Hijauan Makanan Ternak (HMT) : 71 Kg
2. Onggok kering : 15 Kg
3. Bekatul : 13 Kg
4. Starbio : 300 gr
5. Tetes tebu : 500 gr
6. Garam : 200 gr
7. Air : 5 lt

Cara Pembuatan:
  1. Cacah HMT dengan mesin pencacah
  2. Larutkan starbio, molases, garam dalam 5 liter air.
  3. Campur cacahan HMT dengan onggok, bekatul dan basahi dengan larutan starbio, molases, garam secara merata.
  4. Masukan campuran kedalam drum plastik dan tutup rapat-rapat.
  5. Biarkan selama 3 minggu hingga bahan campuran matang.

Sabtu, 26 Februari 2011

Pertanian Modern di Taiwan


Hamparan sawah seluas satu hektar, hanya memerlukan waktu tiga jam dalam menanam padi, jika menggunakan mesin tanam padi seperti yang ada di Taiwan. Dengan pola tanam tersebut tentu dapat menghemat tenaga kerja, waktu serta yang menggiurkan adalah hasil panen yang memuaskan.Per hektar mampu menghasilkan 12 ton gabah.

Sistem pertanian modern di Taiwan, agaknya menjadi daya tarik bagi Kepala KDEI Taipei.Sehingga walau harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam antara Taipei Changhua, bapak dua putra ini tetap semangat mengikuti arahan dari konsultan teknik Chang Kuo-An saat mengunjungi para petani Taiwan beberapa waktu lalu.

Dalam paparannya Mr. Chang menjelaskan, jika pertanian di Taiwan sistem menanam padi sangat jauh dengan sistem yang ada di Indonesia.Jika petani Indonesia dari bibit di semai dihamparan persemaian. Setelah persemaian tumbuh dengan memakan waktu kira-kira 15 hari barulah bibit padi di cabut(di daut) dari persemaian. Setelah itu padi baru di tanam diatas lahan. Dalam satu hektar cara penanaman ini memerlukan waktu seminggu dan membutuhkan tenaga kerja sekitar empat atau lima orang.

Menurut Mr. Chang, jika sistem tanam seperti petani di Indonesia yang di jelaskan diatas, tentu ada beberapa kekurangannya. Diantaranya, bibit padi yang telah tumbuh di media semai, lantas di cabut lagi lalu di tanam di lahan sawah, tentu akan kurang bagus hasilnya. Karena padi yang di cabut akan stress dan untuk pulih memerlukan waktu seminggu. Induknya sudah tumbuh, anakannya baru tumbuh seminggu lagi. Selanjutnya bibit yang di cabut akar-akarnya akan tertinggal di lahan persemaian kira-kira bisa 40 persennya. Jadi ada 40 persen bibit yang hilang.Hal ini tentu akan mempengaruhi hasil produksi. Namun jika menggunakan sistem ala pertanian Taiwan, bibit padi di semai di sebuah wadah pot persegi empat dengan ketinggian 2 cm. Media tanam menggunakan campuran tanah humus, batu bata merah yang telah di haluskan dan sekam. Gunakanya untuk menghemat tanah dan memberi pori-pori pernafasan bibit. Selanjutnya campuran padi dan pupuk di semaikan diatas media tanam.Hanya memerlukan waktu sembilan hari bibit-bibit padi sudah bisa di tanam di atas lahan sawah.

Cara tanam dengan menggunakan mesin tanam ini hanya memerlukan waktu tiga jam per hektar. Menggunakan mesin tanam ini, selain lebih efisien waktu dan tenaga juga membuat tanaman rapi, karena secara otomatis mesin telah memisah-misah bibit dengan jumlah yang sama dan dalam garis yang sama pula.Dengan menggunakan system ini, akan memperpendek proses olah, tanam dan petik. Mulai dari persemaian hingga panen petani akan merasakan jika dengan system ini akan lebih menguntungkan.
Keunggulan teknologi pertanian Taiwan ini, karena proses pertanian di dukung dengan mesin yang seluruh prosesnya tidak banyak menyerap tenaga manusia. Seperti yang terlihat di lokasi, jika terdapat dua ruang yang terdapat mesin pompainer. Satu ruang khusus untuk mencampur tanah gabah dan pupuk, serta satu ruang lagi sebagai tempat pencetakan bibit.MenuruT Mr. Chan jika mesin pompainer berfungsi untuk menjaga mutu bibit yang di tanam.Sementara mesin-mesin ini mampu menghasilkan produksi bibit sekitar 3000 dapot per jam.

Suhartono dalam kunjungannya juga sempat menjalankan mesin tanam padi.Menurutnya mesinnya mudah dijalankan, dan jika petani Indonesia menggunakan mesin ini, diharapkan Indonesia bakal menjadi negara surplus akan pangan. Mengingat lahan di Indonesia masih cukup luas sementara tak di manfaatkan dengan baik.” Jika saja Indonesia mengadopsi sistem pertanian seperti ini, mungkin cerita soal import beras tak ada ceritanya lagi. Terutama bagi petani, yang bakal merasakan manfaatnya karena panen bisa tiga kali dalam setahun karena pendeknya waktu.Selain itu tenaga kerja muda, yang mungkin malu bekerja di sawah dan memilih ke luar negeri juga akan berkurang. Karena dengan menggunakan system pertanian modern hasil yang di dapatkan akan memuaskan.maka kenapa mesti keluar negeri?’ ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan Chang Kuo-An, jika sudah saat Indonesia menggunakan tehnologi modern dalam pertaniannya, karena jika tidak bakal ketinggalan dengan petani-petani dari negara lain. Yang karena ketertinggalan tersebut akhirnya sangat tak masuk akal, jika negara agraris sampai mengimport beras untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya.

Sumber : Radar Taiwan - Maret 2010
KDEI-Taipei.org

Rabu, 02 Februari 2011

Pertanian di dalam Gedung

Ada berita yang cukup menarik di Ginza Tokyo Jepang, lantai dua yang ada dibawah tanah terdapat hamparan berbagai macam tanaman, seperti tomat, aneka sayuran dan tanaman padi. “Fasona Otto” adalah nama proyek percontohan pertanian berteknologi canggih. Prinsip kerjanya seperti pada rumah kaca yang memadukan teknologi hidroponik dan teknologi penyinaran “Light Emiting Daily” yang mematikan sinar matahari. Dilantai bawah tanah terdapat tanaman-tanaman padi yang tumbuh dipusat Bisnis Tokyo Jepang.

Untuk memwujudkan mimpi-mimpi besar diatas maka jadilah orang besar dan kesuksesan akan mendatangimu wahai Anak Bangsa Indonesia, kibarkan benderamu di Pertanain Ibu Pertiwi, kita tunggu aksimu………..

Minggu, 19 Desember 2010

SAYURAN SAWI

Mungkin anda pernah berkunjung ke lahan pertanian, anda pasti akan melihat tanah yang begitu luas yang ditumbuhi oleh beraneka macam tumbuhan dan sayuran. Lahan tanah yang sedikit basah dan kotor serta telah tercemari oleh pupuk dan pestisida. Tetapi mungkin anda akan melihat hal ini akan berubah untuk beberapa tahun yang akan datang. Kenyataannya, sekarang beberapa petani di negara Jepang, tidak lagi menanam sayuran di atas tanah, dibawah langit layaknya beberapa petani konvensional di negara-negara lain seperti Indonesia.
Industri makanan di Jepang, menerapkan cocok tanam model baru yang disebut Pabrik Sayuran. Tindakan ini dilakukan untuk menanggapi skandal yang muncul karena adanya pupuk pestisida berbahaya yang di impor dari China.
Petani sedang memeriksa kualitas tanaman
Di dalam pabrik sayuran ini, para petani jepang diharuskan memakai baju pelindung, sarung tangan, penutup hidung agar dapat memasuki pabrik dengan kondisi alam buatan. Kelembaban, tempratur, pencahayaan serta faktor-faktor yang lainnya sepenuhnya diatur, dan tanaman sayuran tumbuh dengan nutrisi yang lebih baik daripada tanah. Menteri pertanian Jepang mengharapkan akan ada 150 pabrik sayuran dalam 3 tahun yang akan datang.

Adapun keunggulan yang dimiliki oleh pabrik sayuran yaitu :

Hasil dapat dipanen lebih cepat dan lebih banyak, misalkan sayuran sawi organik dapat dipanen 20 kali dalam setahun, lebih banyak daripada dipanen 2 atau 3 kali setahun dengan cara bercocok tanam biasa. Ketika akan dijual dan dimasukkan kedalam kemasan, tidak perlu di cuci. Lebih tahan lama di lemari pendingin, karena hanya memiliki sedikit kuman dari tempat mereka tumbuh.

Luar Biasa teknologi pertanian yang diterapkan oleh pemerintah jepang. Semoga ini juga dapat ditiru dan dilaksanakan oleh para petani kita di Indonesia.

PERBANYAKAN TANAMAN

Perbanyakan tanaman dapat berlangsung dengan cara :
  • Secara kawin ( sexual / generatif ) yaitu yang dikenal dengan perbanyakan menggunakan biji.
  • Secara tidak kawin ( asexual / vegetatif ) yaitu dikenal dengan perbanyakan tanaman dengan menggunakan cara buatan ( tidak menggunakan biji ).
Masing-masing cara perbanyakan ini mempunyai kelebihan dan kelemahan .
Kelebihan dari perbanyakan secara generatif / menggunakan biji adalah :
  • Dapat dikerjakan dengan mudah
  • Biasanya lebih sehat dan hidup lebih lama
  • Memungkinkan diadakan perbaikan –perbaikan sifat tanaman lewat persilangan baru.
  • Benih lebih mudah disimpan dan dan dikirimkan.
  • Tanaman mempunyai perakaran tunggang yang dalamsehingga tahan kekeringan pada musim kemarau dan tahan rebah.
Kelebihan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah :
  • Untuk perbanyakan tanaman yang tidak menghasilkan biji
  • Sifat-sifat yang baik dari tanaman induk dapat diturunkan.
  • Lebih cepat menghasilkan
  • Untuk beberapa tanaman lebih murah.
  • Dapat dipakai untuk menggabungkan sifat yang baik dari perakaran dan batang dari suatu tanaman yaitu dengan penempelan / okulasi dan penyambungan / enting.
Perbanyakan tanaman secara vegetatif yaitu perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian dari tanaman, baik cabang, ranting, daun, batang, tunas, akar maupun daun. Cara perbanyakan ini dapat dilakukan dengan cara mencangkok, menyetek, okulasi, merunduk, dan sambung.
Keuntungan dari perbanyakan tanaman sistem ini adalah sifat induknya sama dengan hasil turunannya.
Sedangkan alasan lain dari perbanyakan secara vegetatif adalah :
1. Tanaman tidak menghasilkan atau sedikit menghasilkan biji.
2. Biji yang dihasilkan oleh tanaman sukar berkecambah.
3. Tanaman yang diperbanyak secara vegetatif akan lebih cepat berbuah
dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji .
4. Tanaman akan lebih kuat bila disambungkan pada batang jenis lain.
5. Tanaman lebih ekonomis bila diperbanyak dengan vegetatif.
6. Tanaman lebih tahan suhu dingin bila disambungkan pada batang jenis tanaman lain.
Perbanyakan vegetatif tidak hanya menyetek,mencangkok dan menyambung saja tetapi masih ada cara-cara lainnya .
Secara garis besar perbanyakan vegetatif dibagi :
  • Perbanyakan vegetatif dengan menggunakan bagian-bagian khusus tanaman ( tidak terjadi perbaikan sifat tanaman )
  • Perbanyakan vegetatif secara buatan ( tidak perbaikan sifat tanaman ,contoh dengan stek,dan mencangkok )
  • Perbanyakan vegetatif secara buatan ( dapat memperbaiki sifat tanaman contoh dengan menyambung ).

II. Mencangkok
Cangkok merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang tertua di Indonesia.
Kebaikan cangkok adalah :
    • Sifat dari tanaman cangkokan sama benar dengan induknya
    • Pohon akan cepat berbuah yaitu kira-kira setelah berumur 3 – 4 tahun.
Sebaliknya kelemahan adalah :
  • Pohon induk akan rusak bentuknya.
  • Hasil pohon induk akan menurun , karena banyak cabang yang baik diambil sebagai cangkok.
  • Mencangkok tidak bisa dilakukan secara besar-besaran.
  • Mencangkok merupakan pekerjaan yang banyak menyita waktu
  • Pohon cangkokan jarang mempunyai bentuk yang bagus.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melalukan pencangkokan adalah :
1. Pemilihan batang cangkokan :
  • Batang yang dicangkok sebaiknya diambil dari pohon induk yang sedang umur ( jangan terlalu tua dan jangan terlalu muda )
  • Pohon, kuat, sehat dan subur.
  • Usahakan pemilihan batang untuk mencangkok tidak merusak pohon induk,ambil pohon yang tidak produktif dan tegak
  • Produksi buahnya baik.
2. Waktu mencangkok
- Sebaiknya dilakukan pada musim penghujan agar tidak melalukan penyiraman
3. Pemeliharaan mencangkok
- Selama pencangkokan , usahakan media cangkokan selalu cukup lembab

Cara mencangkok
  • Dengan menyayat dan mengupas kulit sekeliling batang yang akan dicangkok
  • Lebar sayatan tergantung pada jenis tanaman.
  • Penyayatan ini sampai terlihat bagian kayunya dan lapisan kambium batang dihilangkandengan jalan dikerok.
Sayatan /luka yang telah dibuat tersebut dibiarkan selama 2 -4 hari, kemudian sekeliling sayatan di tutup dengan campuran tanah halus dan pupuk kandang dengan perbandingan 1;1 ( sebagai media cangkok ) selanjutnya dibungkus dengan sabut kelapa atau pembungkus lain seperti daun pisang,plastik,kaleng, 2 belah bambu.

III. Stek
Perbanyakan tanaman dengan cara stek, umumnya dipergunakan untuk :
  • Menanggulangi jenis tanaman-tanaman yang tidak mungkin diperbanyak dengan menggunakan biji.
  • mengekalkan kloon tanaman unggul.
  • memudahkan dan mempercepat perbanyakan tanaman.
Keuntungan dari perbanyakan tanaman dengan cara stek adalah :
    • Dapat menghasilkan tanaman yang sama dengan induknya, hanya dengan akar, daun dan batang dalam waktu yang relatif singkat dan jumlah yang banyak.
    • Merupakan cara yang sederhana dalam perbanyakan tanaman, cepat dan tidak memerlukan teknik-teknik tertentu seperti perbanyakan tanaman dengan cara sambung.
Macam-macam stek :
      1. Stek akar, yaitu stek yang terdiri dari potongan-potongan akar tinggal dengan satu atau beberapa mata.
Contohnya stek pada tanaman Jahe dan kunyit.
      1. Stek batang, stek ini terdiri dari :
        • Stek cabang, yaitu terdiri dari bagian batang atau cabang atau cabang yang tua, tanpa kulit hijau lagi. Contohnya stek tanaman ubi kayu.
        • Stek ranting, yaitu stek tanaman yang berasal dari bagian batang atau ranting yang masih muda, yang masih mempunyai kulit hijau. Contohnya stek pada tanaman Pangkas kuning, dan Teh.
        • Stek ujung, yaitu stek yang menggunakan bagian ujung batang yang paling muda, contohnya stek pada tanaman Kangkung.
      2. Stek Daun, yaitu stek yang menggunakan bagian tanaman yang berupa daun, dengan satu mata atau lebih. Setiap mata akan membentuk tunas dan akar baru. Setelah tanaman baru telah tumbuh, bahan stek akan berangsur-angsur membusuk.
      3. Stek Tunas/Mata, yaitu perbanyakan tanaman dengan menggunakan mata tunas suatu tanaman, contohnya pada stek tanaman Tebu.
Faktor yang mempengaruhi dalam proses penyetekan dapat digolongkan menjadi tiga golongan :
  1. Faktor Tanaman
    1. Macam bahan stek. yaitu bahan yang akan dipergunakan untuk stek memang beraneka macam, tetapi umumnya tanaman yang berkayu lunak akan lebih mudah berakar.
    2. Umur bahan stek. Bahan stek yang baik adalah stek yang diambil dari tanaman yang telah berumur sedang, bila stek berasal dari tanaman yang masih muda dan lunak maka proses transpirasi akan berlangsung dengan cepat sehingga stek jarang diambil dari pohon yang terlalu muda, demikian juga jika terlalu tua, akan berakibat terlalu lama keluarnya akar.
    3. Adanya tunas dan daun pada stek. Adanya tunas dan daun pada stek akan berpengaruh baik terhadap proses pembentukan akar, akan tetapi jika terdapat daun terlalu banyak, akan terjadi kehilangan air yang banyak pula pada stek karena adanya proses transpirasi, sehingga stek akan layu dan kering sebelum membentuk akar.
    4. Kandungan makanan dalam stek. Stek yang mengandung bahan karbohidrat tinggi dan nitrogen yang cukup akan mempermudah terbentuknya akar dan tunas pada stek.
2. Faktor Lingkungan.
      1. Media Pertumbuhan
Media pertumbuhan stek sebaiknya ber P.H. 5-7, terdiri dari bahan-bahan yang longgar tetapi harus dapat menahan kelembaban serta memberikan aerasi dan drainase yang baik, bebas dari cendawan dan bakteri yang menyerang stek. Media yang dipakai antara lain dapat terdiri dari campuran tanah, pasir dan pupuk kandang. Peranan media perakaran ini akan menentukan prosentase akar-akar stek yang dibentuk serta macam bentuk akar stek.
b. Kelembaban.
Kelembaban termasuk salh satu faktor penting yang dapat mempengaruhi stek sebelum berakar, apabila kelembaban rendah, stek akan mati, karena pada umumnya stek miskin kandungan air sehingga pada kelembaban rendah ini stek akan kekeringan sebelum membentuk akar. Pengambilan air oleh stek sangat menentukan pertumbuhan stek.
c. Temperatur
Temperatur udara optimum untuk pembentukan akar berbeda-beda untuk setiap tanaman, tetapi pada kebanyakantanaman, temperatur udara optimum berkisar antara 29 c – 30 c, sedangkan temperatur media perakaran sebaiknya sekitar 24 c, karena pada temperatur ini pembagian sel dalam daerah perakaran akan dirangsang.
d. Cahaya
Stek memerlukan perlindungan cahaya matahari langsung untuk mempertahankan temperatur dan kelembaban. Kegunaan cahaya terutama untuk pembentukan auxin dan karbohidrat. Tetapi apabila auxin dan karbohidrat telah terpenuhi, cahaya akan mempunyai pengaruh yang merintangi pembentukan akar.
3. Faktor Pelaksanaan.
a. Panjang stek
Stek terlalu panjang tumbuhnya akan lambat, maka hendaknya stek jangan dibuat terlalu panjang, sebagai contoh :
    • Stek batang perlu mempunyai 3 mata tunas, yaitu 1 mata untuk pembentukan akar, 1 mata untuk pembentukan batang dan 1 mata untuk pembentukan cadangan.
    • Panjang stek batang pada umunya 30 cm.
    • Untuk stek cabang panjang sebaiknya 15 cm.
    • Untuk stek ujung sebaiknya 5 cm.
    • Untuk stek mata sebaiknya 2 cm.
b. Pemotongan stek
Untuk stek batang/cabang dibagian atas dipotong miring untuk menghindari dari pembusukan karena adanya air hujan. Dibagian bawah dipotong mendatar supaya perakarannnya banyak dan merata, diusahakan pada pemotongan tidak pecah, yaitu dengan alat yang tajam atau gergaji.
Untuk stek ujung dan stek ranting bagian bawahnya dilakukan pemotongan miring ( ± 45 ) agar penampang dasar stek menjadi lebih luas, sehingga jumlah akar akan tumbuh lebih banyak. Pemotongan miring ini dapat pula menghasilkan satu akar besar pada ujung stek, karena adanya akumulasi zat tumbuh pada ujung tersebut.
Pemotongan stek ini sebaiknya dilakukan dalam air, agar jaringan pembuluh pada stek yang baru dipotong terisi oleh air untuk memudahkan penyerapan.
c. Kebersihan dan Pemeliharaan.
Dalam penyetekan diperlukan kebersihan dari alat pemotong, media perakaran, dan tempat pertumbuhan agar terbebas dari kemungkinan penularan jamur dan bakteri-bakteri pada stek. Pemakaian fungisida akan mencegah penyakit yang mungkin timbul pada stek.
Pada pemeliharaan, penyiraman yang berlebihan dapat membusukan stek dan penyiraman kurang, stek tersebut dapat menjadi kering. Demikian pula pengaturan cahaya harus dilaksanakan dengan memberikan naungan agar cahaya tersebut sesuai dengan kebutuhan stek.

IV. Penyambungan
Penyabungan tanaman dapat diartikan suatu tindakan memasukan, atau menempatkan atau menyambung bagian dari tanaman satu ke bagian tanaman lain hingga membentuk sambungan yang tetap dan kekal serta membentuk tanaman baru.
Penyambungan ini dapat dilakukan diantara dua atanaman dari satu varietas, misalnya batang bawah diambil dari pohon belimbing demak dan disambungkan dengan belimbing lokal lainnya.
Penyambungan ini juga dapat dilakukan diantara varitas dalam satu spesies, misalnya Ketela pohon lokal dengan ketela karet.
Perbanyakan tanaman dengan cara menyambung dilakukan dengan alasan :
  1. Untuk mempertahankan sifat-sifat yang baik dari pohon induk, yang tidak dapat dilakukan dengan cara lain.
  2. Unutk memperoleh kebaikan dari batang bawah tertentu, misalnya ketahanan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan atau ganguan lain yang ada didalam tanah.
  3. Untuk merubah jenis tanaman yang lebih baik.
  4. mempercepat berbuah dari bibit yang terseleksi.
  5. Memperbaiki bagian-bagian pohon yang telah rusak.
  6. Mengubah kebiasan tanaman, misalnya ketinggian tanaman dapat menjadi lebih rendah.
Untuk memperoleh tanaman sambungan yang baik diperlukan batang bawah dan batang atas yang keadaan serta sifatnya yang baik.
Untuk batang bawah diperlukan kriteria antara lain :
  1. mempunyai batang dan perakaran yang kuat, tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan seperti penyakit yang menyerang akar.
  2. Mudah menyesuaikan dengan lingkungan.
  3. mempunyai kecepatan tumbuh yang sama dengan batang atas.
  4. Tidak mengurangi mutu dan jumlah buah pada tanaman yang akan terbentuk.
Sedangkan untuk batang atas diperlukan syarat :
  1. Diambil dari pohon yang kuat , tumbuh normal, bebas dari hama penyakit.
  2. Batang harus lurus dan bergaris tengah ± 1 cm.
  3. Berasal dari tanaman yang dinginkan, misalnya buah banyak, enak, kayunya bagus, tahan hama dan penyakit.
Cara Menyambung :
    • Batang bawah dan atas diusahakan ukuranya sama, sebagian daunya dipotong atau semua daunnya dipotong habis.
    • Pada batang bawah dibuat celah/dibelah sepanjang 3-4 cm secara simetris dengan menggunakan pisau tajam.
    • cabang-cabang untuk batang atas yang telah tersedia diptong kurang dari 10 cm ( 5-10 cm ) bgaian pangkalnya disayat pada kedua sisinya dan diruncingkan sepanjang 3-4 cm.
    • Batang atas dimasukan kedalam belahan batang bawah, sehingga luka sayatan seluruhnya kedalam belahan batang bawah.
    • Pertautan dikat dengan tali rafia hingga rapat.
    • Lakukan penyukupan sampai batang bawah pertautan dengan menggunakan kantong plastik putih, dengan maksud menjaga kelembaban pada pertautan.
    • Pertautan akan merekat baik dalam waktu 3-4 minggu setalah penyambungan.
    • Tanda pertautan telah berhasil apabila pada batang atas telah tumbuh tunas baru, atau batang atas tetap segar.
    • Apabila batang atas telah tumbuh tunas, sungkup dibuka dan tali perekat dilepas dengan hati-hati.
    • Apabila bibit telah berumur 2-3 bulan, bibit siap untuk ditanam dilapangan penanaman.

Senin, 10 Januari 2005

Budidaya Jagung di Lahan Sawah Tanpa Olah Tanah


1. Persiapan lahan

  • Pengelolaan jerami: jerami dibabat rata di permukaan tanah, kemudian dibakar karena akan menekan pertumbuhan singgang padi dan gulma pada awal pertumbuhan.
  • Pembuatan saluran drainase pada keliling petakan sawah dibuat dengan lebar 30 cm dan dalam 20 cm.

2. Penanaman

  • Diperlukan 20 kg/ha benih jagung berlabel dengan daya tumbuh 90-95%.
  • Penanaman dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5-7 cm, setiap lubang diisi 2-3 biji dengan jarak tanam 80 x 40 cm.
  • Pemupukan
  • Pemupukan I: Dilakukan saat tanaman berumur 14 hari. Pupuk ditugalkan + 5 cm dari tanaman dengan takaran urea 100 kg/ha, SP36 100 kg/ha, dan KCl 50 kg/ha.
  • Pemupukan II: Saat tanaman berumur 32 hari hanya dengan urea sebanyak 150 kg/ha.
  • Saat pemupukan diusahakan tanah dalam keadaan lembab, dan kalau perlu diikuti dengan pemberian air irigasi.

3. Pengairan

  • Fase kritis tanaman jagung adalah umur 30 dan 60 hari dengan menggunakan sabit/dikored.
  • Pada saat penyiangan pertama (umur 30 hari) sekaligus dapat dilakukan pembumbunan bila diperlukan.
  • Pengendalian hama dan penyakit
  • Diupayakan mengacu pada prinsip pengendalian hama dan penyakit.

4. Panen

  • Dilaksanakan pada saat jagung sudah kering di lapangan, sehingga mengurangi tenaga penjemuran setelah jagung dipipil.




Sabtu, 10 Januari 2004

SL-PTT

Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu



Sekolah ini merupkan sekolah untuk para petani yang berjumlah 25 orang, didalamnya terdapat informasi baru dan bantuan berupa pupuk Urea 100 kg, NPK 300 kg dan Organik 1 ton untuk 1 hektar sebagai sarana belajar dari Departemen Pertanian. Agar nantinya dalam usaha budidaya khususnya padi dapat lebih maksimal dengan teknologi baru dan padat modal serta ramah lingkungan tentunya.

Sekolah Lapang ini diadakan diseluruh indonesia yang merupakan program dari Dinas Pertanian dan para Petugas Penyuluh Lapang yang membimbing para petani belajar, diskusi, mengamati lansgung, memecahkan masalah dan mencoba mengitung analisis usaha tani.

Komponen Teknologi :
1. Pengolahan Tanah dengan penambahan pupuk organik 5-6 ton per hektar
2. Persemaian, 1 kepal benih padi untuk 1m2 ­­
3. Benggunaan 25 kg benih per hektar
4. Penanaman Bibit Muda ( < 20 hari setelah tanam)
5. 1-2 bibit per lubang tanam atau sesuai dengan keadaan setempat
6. Penanaman dengan teknologi legowo 2:1, 4:1
7. Pemupukan untuk per hektar membutuhkan Urea 100 kg dan NPK 300 kg
8. Penggunaan Bagan Warna Daun
9. Pengairan Berselang
10.Pengamatan Hama dan Penyakit
11.Penanggulangan Tikus dengan perburuan/gropyokan tikus

Jumat, 10 Januari 2003

Pengendalian Hama Keong Mas


Pemasangan perangkap telur dan pemungutan keong mas secara berkala

  • Perangkap telur terdiri dari kayu bambu, pelepah rumbia, rantingranting kayu.
  • Panjang kayu perangkap 1-1,5 m.
  • Besar kayu perangkap (diameter) 1-3 cm.
  • Pemasangan tiang perangkap didalam petakan sawah, 1-3 meter jarak dari pematang sawah .
  • Jarak masing-masing tiang 2-3 meter atau lebih.
  • Jumlah tiang perangkap 200 batang/ha.
  • Pemasangan tiang perangkap pada umur tanaman padi 1 minggu setelah tanam ampai dengan 4 minggu setelah tanam.
  • Pemungutan/pembuangan kelompok telur yang menempel pada tiang: seminggu 1 atau 2 kali.
  • Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.
  • Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.

Pemberian umpan perangkap dan pemungutan keong mas secara berkala

  • Umpan perangkap terdiri dari daun, batang, tangkai pepaya dan daun kuda-kuda.
  • Peletakan umpan perangkap diletakkan dalam petakan sawah secara berjejer.
  • Jarak peletakan umpan antara satu dengan yang lain 1-2 meter.
  • Jumlah umpan yang digunakan 40 kg/ha.
  • Waktu mulai peletakan umpan sebelum tanam sampai dengan 5 minggu setelah tanam.
  • Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.
  • Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.

Pelepasan itik di areal sawah

  • Waktu pelepasan 1 minggu setelah tanam sampai dengan umur 45 hari setelah tanam.
  • Jumlah itik yang dilepaskan 25 ekor/ha.
  • Waktu pelepasan pagi dan sore hari.




Kamis, 10 Januari 2002

Sistem Tanam Legowo 4:1

Keuntungan sistem tanam legowo ini

  • Secara prinsip sistem legowo memberikan pengaruh tanaman pinggir (border effect), yaitu semakin luasnya jelajah perakaran tanaman sehingga memungkinkan tanaman menjadi lebih sehat dan bernas yang pada akhirnya memberikan hasil lebih tinggi.
  • Populasi tanaman meningkat dari 250.000 rumpun menjadi 400.000 rumpun (+ 60%).
  • Lebih memudahkan pekerjaan seperti menyemprot atau memupuk tanaman dimana petani dapat berjalan di lahan yang kosong tanpa mengganggu tanaman.