Kamis, 23 April 2009

“Lukas’ Moment” Film Terakhir di Program BSF


Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga kembali menggelar program pemutaran film bulanan Bamboe Shocking Film (BSF). Pemutaran akan digelar pada Sabtu, 25 April 2009, di Café Bamboe, Jl. Jend. Sudirman 126 Purbalingga, mulai pukul 19.30 WIB sampai selesai.

Bulan ini, pemutaran memasuki BSF ke-17 yang berarti sudah tiga tahun program BSF digelar sejak 2007 silam. Di bulan ini pula, CLC berniat menghentikan program bulanan BSF untuk beberapa saat berbenah secara internal. “Pasca Purbalingga Film Festival yang akan digelar pada 21-23 Mei 2009, kami akan mengoreksi program-program yang telah digelar selama ini sembari mempersiapkan program ke depan,” tutur Manager Program CLC Trisnanto Budidoyo.

Bagi kami, lanjut Trisnanto, rentang tiga tahun waktu yang cukup panjang untuk setiap bulan menyiapkan sebuah program pemutaran. Terkadang melewati penonton yang banyak bahkan berlebih, tak jarang pula dengan penonton yang pas-pasan. Namun bukan hanya kuantitas penonton yang menjadi ukuran keberhasilan. “Dikala penonton yang sedikit namun punya keseriusan dalam menonton, itu juga penanda berhasil,” ujarnya.

Dokumenter Papua
Film yang akan diputar terakhir di program BSF adalah film dokumenter besutan sutradara Aryo Danusiri bertajuk “Lukas’ Moment”. Film berdurasi 60 menit ini berlatar cerita Papua, provinsi paling ujung timur Indonesia.

Namun, jangan disangka film ini memvisualkan eksotisme alam Papua atau sekedar menampilkan wajah etnik dan cenderung primitif secara penghidupan dari negeri Papua seperti stereotipe film-film dokumenter lainnya.

Film yang diproduksi tahun 2005 dan sempat menyabet penghargaan The Best Student Film di RAI International Ethnographic Film Festival Oxford, UK ini bercitra lain. “Lukas’ Moment” berkisah mengenai perjalanan Lukas, pemuda nelayan suku Marind yang tinggal di pinggiran kota Merauke, Papua. Drama dibangun dari tekadnya membangun usaha distribusi udang yang mandiri, lepas dari ketergantungan jaringan bisnis tengkulak yang menjerat.

Aryo Danusiri yang juga seorang antropolog dalam film karyanya ini menangkap tokoh Lukas dari kehidupan keseharian yang intim dan observasional. “Lukas' Moment” menjadi karya master tesis Aryo di jurusan Antropologi Visual di salah satu universitas di Norwegia.

Film dokumenter lain yang diputar adalah soal perseteruan babak baru para pegiat CLC dengan Satpol PP Pemkab Purbalingga. Film berdurasi 7 menit ini mengungkap saat-saat pelarangan pemasangan baliho Purbalingga Film Festival 2009 hingga baliho berhasil dinaikkan. Untuk kemudian diturunkan oleh Satpol PP keesokan harinya.

Pemutaran kedua film dokumenter ini diharapkan membuka mata kita bersama arti penting film itu sendiri, sebagai bukti otentik terkait kisah, kehidupan, dan sejarah manusia. Bolex

Senin, 13 April 2009

Nasib CLC tak Beda Pedagang Kaki Lima


Baliho bertuliskan Purbalingga Film Festival 2009 milik Cinema Lovers Community (CLC) yang baru terpasang di depan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Purbalingga pada Minggu malam (12/4), dicopot paksa Satuan Pamong Praja (Satpol PP) keesokan harinya.

Padahal, izin pemasangan sudah dialamatkan pada Kepala Perpustakaan Umum dan Museum Daerah Kabupaten Purbalingga. Namun, tindakan semena-mena Satpol PP seperti halnya pada pedagang kaki lima pun dialami komunitas film di Purbalingga itu.

Pada malam pemasangan baliho festival film yang hendak digelar pada 21-23 Mei 2009, sudah terjadi cek cok antara pegiat CLC dengan komandan dan beberapa anggota Satpol PP. Baliho berukuran 3 x 4 meter yang sedianya terpasang selepas waktu maghrib pun molor hingga terpasang pada pukul 12.15 WIB.

Sebenarnya, soal surat izin dari Kepala Perpus sudah tidak ada masalah, bahkan komandan Satpol PP pun dengan jelas memberitahu bahwa baliho dengan kegiatan kesenian semacam festival film tidak dipungut pajak.

Bahkan Satpol PP siap membantu bila kantor pajak daerah tetap memungut biaya perizinan. Dan pada festival film tahun lalu, tidak ada masalah dengan pemasangan baliho di depan Perpus itu. Tapi entah kenapa Satpol PP tetap merampok harta milik CLC tersebut.

Ditakdirkan Berseteru
CLC menganggap sudah ditakdirkan berseteru dengan Satpol PP sebagai tangan kanan dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga yang selama ini tutup mata pada kegiatan kesenian yang dipandegani anak-anak muda Purbalingga.

Perseteruan CLC dengan Satpol PP (Pemkab Purbalingga) sudah mengakar sejak 2006. Perseteruan ini sebagai representasi aktivitas anak-anak muda Purbalingga yang tidak puas pada pemerintah daerahnya.

Pemasangan baliho di depan Perpustakaan Umum Daerah atau di seputar alun-alun Purbalingga itu sebagai wujud protes CLC pada pemerintah daerahnya yang selama ini tidak bersegera membangun gedung kesenian untuk menampung kreativitas para seniman di Purbalingga.

CLC secara berani dan tanpa kompromi berusaha menembus batas-batas formalitas dan birokrasi yang diciptakan secara kaku. Tidak mudah memang untuk memajukan Purbalingga. Butuh waktu panjang dan merasakan sakit hati yang teramat sangat. bolex

Minggu, 29 Maret 2009

JKFB Mendapat Penghargaan dari IKJ


Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) mendapat Penghargaan sebagai Komunitas Film Berapresiasi dari Ikatan Alumni Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ). Penghargaan diberikan pada Sabtu malam, 28 Maret 2009, di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Pemberian penghargaan yang baru pertama kali dilakukan itu dalam rangka memperingati Hari Film Nasional ke-59 yang jatuh pada 30 Maret kepada beberapa orang dan kelompok. Untuk kelompok, JKFB terpilih sebagai Komunitas Film Berapresiasi dan untuk perseorangan adalah Mahasiswa Berprestasi dan Dosen Tercinta.

JKFB mewakilkan Bowo Leksono dari Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga dan Insan Indah Pribadi dari Komunitas Sangkanparan Cilacap untuk menerima penghargaan. Kedua komunitas film tersebut adalah anggota dari JKFB.

Insan Indah Pribadi merasa tidak menyangka kerja-kerja kreatif di daerah selama ini mampu menginspirasi mereka (alumni FFTV-IKJ) untuk memberi penghargaan kepada JKFB. “Mereka mengakui kurang mengerjakan pengabdian pada masyarakat seperti yang dilakukan JKFB padahal pengabdian masyarakat adalah tugas alumni,” katanya.

Penghargaan dari IKJ untuk JKFB tidak semata sebuah apresiasi yang tinggi terhadap apa yang dilakukan oleh komunitas film di daerah. Tapi juga mewujud dalam bentuk uang tunai sebesar Rp 10 juta.

Sementara menurut Bowo Leksono, selama ini apa yang dilakukan JKFB tidak sedang mengejar penghargaan, meskipun penghargaan dalam bentuk apapun mempunyai arti penting. “Kami sedang mempersiapkan sebuah perpustakaan film di Banyumas dan apa yang diberikan Alumni FFTV-IKJ sangat membantu pembangunan perpustakaan itu,” kata Bowo yang juga bertindak sebagai humas eksternal JKFB.

Sejak 2006, JKFB menjadi badan asosiasi komunitas film di Banyumas, Jawa Tengah yang sebelumnya berdiri sebagai forum komunikasi jaringan komunitas film di Banyumas. Komunitas ini mempunyai visi menjadi lembaga fasilitator dan mediator dalam mengembangkan serta memajukan kegiatan perfilman di eks-Karesidenan Banyumas melalui program kegiatannya.

Sementara misi JKFB melakukan kerja kolektif serta jaringan dalam berbagai aspek yang dapat memajukan kegiatan perfilman di eks-karesidenan Banyumas. Mendukung pengembangan kegiatan perfilman Banyumas, baik bagi anggota pada khususnya, maupun masyarakat Banyumas pada umumnya.

Sebelum pemberian penghargaan juga digelar diskusi bertema “Re(in)trospeksi FFTV-IKJ dalam Perjalanan Perfilman Indonesia” yang dihadiri para alumni FFTV-IKJ. Bolex

Jumat, 27 Maret 2009

CLC Merayakan Hari Film Nasional



Maret adalah bulan film Nasional karena dibulan itu terdapat Hari Film Nasional yang jatuh tepat 30 Maret. Penetapan Hari Film Nasional berdasarkan Keppres No. 25 tahun 1999. Dan tahun ini memasuki Hari Film Nasional yang ke-59

Mengapa 30 Maret? Penetapan harinya orang film ini bukan berdasarkan pada tanggal kelahiran tokoh perfilman Nasional seperti pada hari-hari besar lainnya. Meskipun Indonesia mempunyai seorang tokoh film yang berjuluk “Bapak Film Nasional” yaitu Usmar Ismail.

Penetapan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional tentu bukan tanpa sebab. Bertimbangan para tokoh perfilman Nasional karena pada tanggal itu, tepatnya 30 Maret 1950, pertama kali diproduksi film Indonesia yang semuanya oleh warga pribumi termasuk oleh perusahaan film pribumi. Film tersebut berjudul “Darah dan Doa” yang disutradarai Usmar Ismail.

Jadi, sudah sejak kapan di Indonesia ada produksi film? Jauh sebelum Indonesia Merdeka. Tahun 1926 adalah tahun pertama film pertama yang dibuat di Indonesia. Film berjudul “Lutung Kasarung” sutradara G. Krugers dan L. Heuveldorp dan diproduksi NV Java Film.

Saat itu, meski perusahaan dan pembuat film bukan asli Indonesia, namun para pemain “Lutung Kasarung” semuanya warga pribumi, antara lain para priyayi, di bawah pimpinan seorang guru kepala Raden Karta Barata. Film tersebut kemudian diputar di bioskop Elita dan Oriental.

Mengenang Hari Film Nasional

Turut meramaikan Hari Film Nasional, Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, sebuah komunitas pecinta film di kota Purbalingga berencana merayakannya secara sederhana dengan memutar film dokumenter salah satu tokoh perfilman Nasional yang masih hidup: Misbach Yusa Biran.

Peringatan Hari Film Nasional ini hendak digelar pada Sabtu, 28 Maret 2009, di program bulanan CLC: Bamboe Shocking Film (BSF) #16, pukul 19.30 WIB, di Café Bamboe, Jl Jenderal Sudirman Nomor 126 Purbalingga.

Film bertajuk “Misbach: Di Balik Cahaya Gemerlap” garapan sutradara Edwin ini mengangkat jejak langkah Misbach, seorang tokoh besar dalam dunia perfilman Nasional, dimasa silam. Film berdurasi 34 menit mengalir dari penuturan Misbach dilengkapi visual-visual koleksi Sinematek Indonesia.

Salah satu peninggalan besar dari sineas kelahiran Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 September 1933 ini adalah gagasannya mendirikan Sinematek Indonesia yaitu lembaga arsip film pertama di Asia Timur di pada 1975. Misbach kemudian memimpin lembaga arsip film yang digagasnya tersebut selama 26 tahun.

Karya besar lain dari penulis skenario, sutradara, dan sastrawan besar ini yaitu turut mendirikan jurusan sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), sekarang Institut Kesenian Jakarta (IKJ), satu-satunya sekolah film di Indonesia.

Kiprah panjang dari suami aktris Nani Widjaya ini diteruskan generasi sineas hingga sekarang, yang melahirkan karya-karya berkualitas dan turut memajukan perfilman Nasional. Film dokumenter produksi Miles Films ini juga dibarengi kiprah anak muda bernama Lisabona Rahman yang gigih menjadi sebagai manager program Kineforum Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, sebuah tempat untuk pemutaran film-film alternatif sepanjang tahun secara gratis.

Selain film dokumenter, akan diputar pula film fiksi perjuangan dari Banyumas bertajuk “19 Empat Toedjoeh” sutradara Wasis Setya Wardhana yang diproduksi La Cimplung. Bolex

Senin, 16 Maret 2009

Workshop Sehari Produksi Film Pendek Fiksi SMA se-Banyumas Besar


Jelang Purbalingga Film Festival 2009
Untuk menjaring karya film pendek yang berkualitas dari para peserta, CLC membuka kesempatan workshop sehari di empat kabupaten. Workshop atau pelatihan ini digelar setiap hari Minggu di bulan Maret 2009. Di workshop ini peserta bisa sharing bagaimana membuat film sembari menggali potensi diri.

Diawali 8 Maret 2009, workshop digelar di Ruang Multimedia SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga, 15 Maret 2009 di Aula Jalabumi Komplek Pendopo Kabupaten Cilacap, 22 Maret 2009 di Sasana Bhakti Praja Komplek Setda Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Banyumas pada 29 Maret 2009 di Basecamp Bintang.

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Heru C. Wibowo untuk Purbalingga (081391432907), Insan Indah Pribadi untuk Cilacap (08121563110), Syarif untuk Banjarnegara (081548843128), dan Sari Handayani untuk Banyumas (081931832169).

Senin, 16 Februari 2009

Workshop Video SLTP: Melatih Kepekaan Sosial


Salah satu rangkaian program Purbalingga Film Festival (PFF) 2009 adalah digelarnya Workshop Video SLTP di Kabupaten Purbalingga. Program ini sedang berlangsung setiap hari Minggu, dari tanggal 15, 22, hingga 29 Februari 2009 mendatang, dari pagi hingga sore hari, di Gedung NU Cabang Purbalingga.

Koordinator workshop video SMP, Nanki Nirmanto mengatakan, workshop ini berupa pelatihan pembuatan video dokumenter sederhana, terbuka bagi pelajar SMP/sederajat di Kabupaten Purbalingga dengan bimbingan dari Cinema Lovers Community (CLC). “Para peserta dibimbing dalam mengembangkan ide, melakukan riset/penelitian, dan merancang produksi/pembuatan video dokumenter sederhana,” tuturnya.

Setelah mendapatkan materi teori dan praktik di ruangan seputar produksi video pada pertemuan pertama, para peserta akan melakukan riset/penelitian ke lapangan sesuai ide yang dikembangkan melalui diskusi kelompok.

“Saya jadi mendapat pengalaman baru, karena selama ini yang saya ketahui penelitian itu hanya di pelajaran Biologi, seperti meneliti organ tubuh katak. Di workshop ini kami juga dilatih berdiskusi,” ungkap Nurul Ana Ardiani siswi SMP Negeri 1 Bobotsari.

Workshop atau pelatihan ini bertujuan lebih pada mengenalkan pelajar SMP pada teknologi audiovisual dan bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan sebuah karya video seperti yang selama ini mereka saksikan di layar kaca.

Tercatat, sepuluh peserta dari empat SLTP yang muridnya mendaftar sebagai peserta workshop. Mereka berasal dari SMP Negeri 1 Purbalingga, SMP Negeri 3 Purbalingga, SMP Negeri 1 Bobotsari, dan SMP Istiqomah Sambas Purbalingga.

Tak Dapat Dukungan Sekolah
Sudah sejak awal 2009, CLC menawarkan ke beberapa sekolah terutama yang terletak di pusat Kota Purbalingga, namun tidak mendapat respon yang menggembirakan. Setelah proposal ‘ngendong’, pihak CLC pun mendatangi semua sekolah dan menanyakan respon dari sekolah.

“Rata-rata sekolah beralasan sedang berkonsentrasi pada mata pelajaran dan kegiatan semacam workshop yang berasal dari pihak luar harus disesuaikan dengan kurikulum yang ada. Tentunya tidak akan ada kurikulum SMP di Purbalingga yang sesuai dengan kegiatan membuat video,” tutur pegiat CLC, Heru C. Wibowo.

Akhirnya, CLC memutuskan dengan atau tanpa dukungan sekolah tetap menjalankan program workshop. “Cukup dengan dukungan semangat dari peserta serta sepengetahuan dan dukungan orang tua murid. Bagaimanapun semua ini juga untuk kepentingan generasi penerus dan itu menjadi tanggung jawab kami yang selama ini bergerak di dunia video atau film,” ujarnya.

CLC sengaja memilih video dokumenter dengan harapan, para pelajar SMP yang masih tergolong remaja tidak sekedar belajar membuat video, tapi juga melatih kepekaan dan kepedulian pada persoalan lingkungan sosial sekitar. Dan hasil dari produksi video dokumenter sederhana ini rencananya diputar perdana di Purbalingga Film Festival (PFF) pada 21-23 Mei 2009, di Hotel Kencana Purbalingga. Bolex

Sabtu, 07 Februari 2009

BSF #15: Elegi Bulan Februari


Tepat tanggal 14 Februari 2009, Sabtu, Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga di program bulanan Bamboe Shocking Film (BSF) #15 berencana memutar dua film dokumenter tragedi. Di hari dan bulan kasih sayang ini, CLC via pemutaran film, turut menyerukan kita semua untuk saling menyayangi dan mengasihi sesama.

“Bunga Dibakar” sebuah film dokumenter garapan Ratrikala Bhre Aditya berkisah tentang seorang pejuang HAM Indonesia. Seseorang yang gigih membela kepentingan dan hak-hak kaum tertindas dan akhirnya meninggal karena keberaniannya itu di tahun 2004.

Munir, SH, aktivis dan juga pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) meninggal dunia di dalam Pesawat Garuda dari Jakarta tujuan Amsterdam, Belanda. Munir berangkat ke Belanda untuk menghadiri seminar sekaligus mengurus bea siswa yang diterimanya dari Inggris (British Achievening Awards).

Kabar terakhir, salah seorang terdakwa pembunuh Munir, Muchdi PR bahkan divonis bebas. Satu lagi tragedi peradilan Indonesia yang terjadi di era reformasi ini. Muchdi yang juga mantan Deputi Kepala Badan Intelejen Nasional (BIN) dinyatakan tidak terbukti bersalah membunuh Munir.

Film berdurasi 45 menit ini diawali adegan saat-saat pemakaman aktivis HAM kemudian cerita mengalir dari guru dan saudara-saudara Munir yang mengisahkan masa kecil Munir. Keberanian Munir memang sudah tertanam sejak kanak-kanak.

Kawan-kawan seperjuangan Munir pun bersaksi bagaimana kegigihan Munir dalam melawan ketidakadilan yang kerap dilakukan aparat militer. Orde Baru adalah zaman dimana militer sangat represif terhadap rakyatnya. Dan Munir berada di tengah-tangah pembalaan rakyat itu, bicara lantang dan penuh keberanian.

Sekarang ini, para pimpinan militer yang merupakan mantan-mantan jenderal yang luput dari jeratan hukum karena dosa-dosa HAM dimasa lalu, kembali muncul dengan sisa kejayaannya dan tanpa malu mendaulatkan diri sebagai pemimpin partai politik.
Sesungguhnya, Munir hanya ingin Indonesia memiliki militer yang humanis, yang menyayangi rakyatnya sendiri. Film ini kembali menegaskan bahwa Munir tidak ingin “mati” sebelum mati.

Film dokumenter kedua adalah garapan Tedika Puri Amanda dari Kota Malang, Jawa Timur bertajuk “Berita Terakhir”. Film berdurasi 11 menit ini menceritakan bagaimana warga desa yang menjadi korban penembakan polisi hutan karena dianggap mencuri kayu di hutan.

CLC memutar kedua film tragedi tersebut sekaligus mengajak penonton melihat realita yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang. Apalagi, 2009 adalah tahun politik yang kemungkinan besar akan terjadi gesekan bila kita tidak memodali diri dengan pendidikan politik yang baik. Kalau toh kita harus memilih, tentu memilih pemimpin yang tak punya masa lalu kelam. Bolex