Kamis, 20 Februari 2014

Produksi Fiksi SMA Bukateja Purbalingga


Awalnya, Dirman, pemuda pencari rumput, hanya mampu mengutuk dirinya sendiri lantaran tak mampu menyelamatkan gadis cantik yang disekap dua lelaki di tengah hutan. Dengan sebuah sepeda, ia mengejar si gadis yang dibawa kabur dengan sepeda motor.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika sepeda Dirman mampu menyalip sepeda motor yang membawa si gadis cantik, justru mereka jatuh saling bertubrukan. Meski terluka, Dirman berusaha bangkit.

“Rika agep nyulik bocah wadon kiye ya? Culna! (Anda hendak menculik anak gadis ini ya? Lepaskan!),” tantang Dirman. “Nyulik? Kiye anake nyong, anu ora waras! Ko gelem kambi anake nyong?(Menculik? Ini anak saya, yang sakit jiwa! Kamu mau sama anak saya?),” balas salah satu lelaki.

Demikian cuplikan adegan film pendek “Sekuntum Anggrek Putih” yang baru saja diproduksi Sabuk Cinema ekstrakulikuler sinematografi SMA Bukateja Purbalingga. Para pelajar itu memproduksi selama sehari, pada Kamis, 20 Februari 2014 di Desa Pandansari, Kecamatan Kejobong, Purbalingga.

“Skenario film pendek ini berasal dari cerpen berjudul “Apa Aku Gila” karya Lisnaeni Panggayuh, pemenang pertama Sayembara Cerita Muda Purbalingga (SCMP) tahun 2014 yang digelar Kelas Menulis Purbalingga,” ujar Tito Firesta Yonara, penulis skenario sekaligus kameraman.

Menurut Tito, ia dan beberapa teman di Sabuk Cinema, setelah mengantongi izin dari penulis cerpen, mencoba menuliskan kembali dalam bentuk skenario film pendek dari perspektif mereka. “Tidak mudah memang, karena harus disesuaikan dengan visual dalam film,” ungkap pelajar yang duduk di bangku kelas XI ini.

Sekitar dua bulan memasuki tahap praproduksi, ekskul yang tahun lalu vakum membuat film fiksi pendek ini kembali berproduksi. Tampaknya, mereka ingin kembali meraih sukses film pendek yang dibuat dua tahun silam.

Menurut sutradara Dinda Putri Hapsari, ia dan teman-temannya tidak mau berhenti berkarya. “Program ekskul sinema ya membuat film, apapun kendalanya karna bagi kami yang penting kerjasama dan kekompakan agar tidak bubar,” tegas siswi kelas X ini.

Sementara pembina ekskul sinema Meinur Diana Irawati mengatakan, meskipun sekolah sudah mendukung, keberlanjutan ekskul tetap berada pada niat dan semangat anak-anak didik. “Sekolah itu sifatnya memfasilitasi, kami para guru hanya berusaha agar anak-anak tetap semangat berkarya,” tutur guru pengampu pelajaran Ekonomi.

Sebelumnya, ekskul sinema SMA Bukateja Purbalingga ini telah menelorkan dokumenter bertajuk “Angguk” yang nantinya bersama film pendek ini akan diikutsertakan pada program kompetisi pelajar Banyumas Raya Festival Film Purbalingga (FFP) 2014.

Sabtu, 15 Februari 2014

Produksi Fiksi SMA Rembang Purbalingga


Giras, cucu Mustarja, menemukan setumpuk baju yang di bungkus kain jarit di dasar gudang daun cincau kering. Baju-baju yang ternyata seragam lengger adalah milik Mustarja yang disembunyikan anaknya, Sugito.

Sugito merasa malu pada bapaknya, karena hingga usia lanjut, masih saja menari lengger. Giras lalu memberikan bungkusan itu kepada kakeknya lalu membuka dan menunjukkan pada Giras. “Kiye sing gawe nyong semangat urip, Ras!” (Ini yang membuat saya bersemangat hidup, Ras!),” tegas Mustarja.

Cuplikan kisah itu salah satu adegan pada film pendek bertajuk “Si Lengger Lanang” yang baru saja dibuat Pak Dirman Film ekstrakulikuler sinematografi SMA Rembang Purbalingga. Para pelajar itu memproduksi film selama dua hari, Jumat-Sabtu, 14-15 Februari 2014 di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Purbalingga.

“Cerita film pendek kami berdasar pada film dokumenter yang kami produksi sebelumnya. Sudah seperti tradisi bagi ekskul kami, membuat cerita fiksi diilhami dari kisah dokumenternya,” ujar penulis skenario Lilit Widiyanti.

Sebelumnya, pelajar yang tergabung dalam Pak Dirman Film memproduksi dokumenter berjudul “Segelas Teh Pahit” tentang kisah lengger lanang yang masih tersisa di Desa Panusupan bernama Manarwi (80). Dari kisah itu, mereka terilhami untuk kemudian memproduksi versi fiksinya.

Menurut sutradara Ela Nur Wijayanti, semua pemain diambil dari warga Desa Panusupan. Hal ini, katanya, karena kedekatan yang sudah dibangun dengan warga desa sebelumnya. “Meski begitu, ternyata tidak mudah mengatur pemain orang tua, apalagi anak-anak. Untunglah, mereka bersemangat dan dilakukan dengan rasa senang,” tutur pelajar yang duduk di kelas XI ini.

Guru pembina ekskul sinema Puji Rahayuning Pratiwi mengatakan, proses produksi film bagi siswa menemukan tantangan pada dua hal, internal dan eksternal. “Internal, anak-anak harus pandai-pandai mengatur waktu sekolah, karena harus dikerjakan berbulan-bulan. Sementara eksternal, ya harus berhubungan dengan pihak-pihak luar dimana film itu akan diproduksi,” ujar guru pengampu mata pelajaran Matematika ini.

Seperti halnya film dokumenter, film fiksi ini juga hendak diikutkan pada kompetisi pelajar Banyumas Raya Festival Film Purbalingga (FFP) 2014 pada Mei mendatang.

Sabtu, 08 Februari 2014

Produksi Dokumenter SMK YPLP Perwira Purbalingga


Matahari hampir tegak lurus di atas kepala. Seorang lelaki bertubuh hitam legam berjalan menelusuri bantaran Sungai Klawing di wilayah Desa Jetis, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga. Ia diikuti dua pelajar yang membawa peralatan kamera.

Lelaki bernama Imam Sardi (42) itu naik sebuah perahu miliknya, lalu menyalakan mesin. Ia siap menambang pasir untuk kedua kali pada hari itu. Kedua pelajar itupun tak berhenti di pinggir sungai, mereka turut serta menaiki perahu.

Pelajar yang tergabung dalam Kafiana Production ekstrakulikuler sinematografi SMK YPLP Perwira Purbalingga sedang memproduksi sebuah film dokumenter yang mengangkat keluarga penambang emas hitam di sungai terbesar di Purbalingga.

“Ya kami sedang membuat dokumenter tentang kisah penambang pasir. Konsep produksinya, kami mengikuti selama beberapa hari perjalanan keluarga penambang pasir. Bagi kami, kehidupan mereka sangat menarik,” ungkap Octa Berna Ratungga, selaku sutradara.

Beberapa bulan melakukan riset, bahkan sempat beberapa kali berganti subyek, para pelajar yang baru setahun memiliki ekskul sinema itu memproduksi dokumenter selama empat hari, Kamis-Minggu, 6-9 Februari 2014.

Pagi dini hari, para pembuat film sudah berada di halaman rumah penambang. Mereka menunggu penghuni rumah bangun dan mulai mengambil gambar aktifitas keseharian mulai bangun tidur hingga kembali beranjak ke tempat tidur.

Menurut salah satu kru, Zakaria Maolana Romadon, dokumenter seperti ini tidak hanya telaten dalam visual tapi juga audio. “Berusaha jangan sampai ketinggalan momen, karna dari situ cerita film ini dibangun,” ujar pelajar yang didapuk sebagai kameraman ini.

Kepala SMK YPLP Perwira Purbalingga Kurniawan Hery S., S.Pd., mengatakan memproduksi film dokumenter itu salah satu cara siswa untuk melatih kepekaan pada lingkungan dimana mereka tinggal. “Banyak hal di Purbalingga ini yang menarik dan perlu difilmkan. Ini baik bagi pembelajaran siswa,” tuturnya.

Seperti halnya dokumenter yang diproduksi pelajar setingkat SMA lainnya, film ini rencana hendak diturutsertakan pada program Kompetisi Pelajar Banyumas Raya Festival Film Purbalingga (FFP) 2014 pada Mei mendatang.

Kisah Penambang Emas Hitam


Beberapa pekan silam, Imam Sardi (42), seorang penambang pasir Sungai Klawing Purbalingga dipanggil ke Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Purbalingga. Lelaki warga Desa Jetis, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga ini sempat merasa takut.

Belakangan ada laporan masyarakat, beberapa penambang emas hitam di jalur Sungai Klawing wilayah Jetis melanggar aturan penambangan dengan mengambil pasir di bantaran sungai yang berakibat longsor dan hilangnya pohon-pohon yang ditanam di atasnya.

“Ternyata salah tangkap. Saya, terlebih istri saya, sempat merasa sangat takut. Saya tidak pernah menambang di pinggiran, selalu di tengah sungai. Meski begitu di kantor polisi, saya tetap diminta tanda tangan surat pernyataan,” tutur Sardi.

Sardi, sejak menikah dengan Jumeni (41) pada tahun 1992, beralih profesi dari sopir ke penambang pasir. Hanya berjarak sekitar 50 meter rumahnya yang masih berdinding bambu dengan sungai terbesar di Purbalingga itu.

Menurut bapak dari Eva Mega Restiani (18), Suci Ramadani (10), dan Anisa Nifkul Laila (4) ini, menambang pasir itu gampang-gampang susah. “Gampangnya, pasir selalu tersedia di sungai, alam yang menyediakan, yang penting kita jangan asal mengambil. Susahnya, bila tidak menambang ya tidak dapat uang, menambang saja belum tentu dapat uang bila pasir kita tidak ada yang membeli,” terang lelaki berkulit legam ini.

Dalam sehari, Sardi menambang dua kali. Bila rezeki sedang gampang, bisa bolak-balik lebih dari dua kali. Sekali menambang, ia mampu mengantongi Rp 30 ribu untuk ukuran sekitar satu kubik emas hitam.

Sejak sekitar tiga tahun silam, keluarga Sardi telah memiliki perahu dan mesin sendiri dengan cara menyicil selama kurang dari lima tahun. Namun demikian, pekerjaan Sardi masih bergantung pada bos depot penambangan pasir yang turut mengatur pemasaran pasir para penambang.

Apapun profesi Sardi adalah anugerah bagi istri dan ketiga anaknya. Menurut Jumeni, ia sangat bersyukur bersuamikan Sardi. “Bojoku kuwe ora pediren, apa-apa sing demek bisa dadi duit. Kuwe senenge nyong neng kono.(Suami saya itu tidak canggungan, apapun yang dikerjakan bisa jadi uang. Itu senangnya saya disitu),” ujar ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai buruh tani serabutan ini.

Oleh: Octa Berna Ratungga dan Zakaria Maolana Romadon
Pelajar SMK YPLP Perwira Purbalingga

Sabtu, 25 Januari 2014

Produksi Dokumenter SMA Kutasari Purbalingga


Sepagi itu, sebelum terdengar adzan dari pengeras suara masjid dan mushola, Suwini (39) sudah berhadapan dengan lampu neon menata helai rambut demi rambut menjadi bakal bulu mata palsu.

Disela kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan istri seorang penderes (perajin gula merah), Wini menyempatkan ngidep (membuat bulu mata palsu) untuk tambahan pendapatan suami yang memang tak mencukupi.

Sementara suami, Suwitno (41), sehari dua kali, pagi dan sore, harus turun naik 21 pohon kelapa yang disewa untuk mengambil air nira. Harga gula merah (jawa) tak semanis rasa gula yang dihasilkan pasangan tiga anak Witno dan Wini.

Kehidupan keluarga penderes dan pengidep yang tinggal di Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari, Purbalingga itu coba ditangkap kamera pelajar SMA Kutasari Purbalingga yang tergabung dalam Papringan Pictures ekstrakulikuler sinematografi menjadi sebuah film dokumenter.

“Banyak keluarga di wilayah Kutasari dan Purbalingga umumnya yang kepala rumah tangga berprofesi sebagai penderes dan perempuannya pengidep. Mereka yang diluar Purbalingga, tidak banyak tahu seperti apa kehidupannya, untuk itu dokumenter ini kami buat,” tutur Achmad Lutfi, periset sekaligus sutradara.

Lutfi dan beberapa temannya telah beberapa bulan melakukan pengamatan terhadap kehidupan keluarga penderes. Setelah dirasa cukup, mereka menjadwalkan pengambilan gambar selama lima hari, Rabu-Minggu, 22-26 Januari 2014.

“Selain teknik kamera yang diterapkan, kesabaran menjadi kunci dalam produksi dokumenter ini. Kami mengikuti jam demi jam kehidupan meraka dengan segenap konfliknya,” ungkap penata kamera, Lutfi Utami.

Kepala SMA Kutasari Joko Suryanto mengaku dirinya yang meminta siswa ekskul sinematografi untuk memproduksi film terkait kehidupan penderes. “Kami mengamati, perjuangan hidup keluarga penderes itu luar biasa. Setiap hari mereka berhadapan dengan resiko jatuh dari pohon kelapa. Menurut kami, ini menarik bila difilmkan,” ujarnya.

Selain bagian dari program ekskul sinematografi, produksi dokumenter ini rencananya dikirim pada program kompetisi pelajar SMA se-Banyumas Raya Festival Film Purbalingga (FFP) yang digelar Mei 2014 mendatang.

Kamis, 23 Januari 2014

Pengendalian Hama Wereng

Wereng sampai saat ini masih dianggap sebagai hama utama pada pertanaman padi karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim pertanaman. Serangan Hama wereng coklat dapat mengakibatkan puso atau gagal panen. Secara langsung  kemampuan serangga wereng coklat menghisap cairan jaringan tanaman padi sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati.

Hama wereng hijau dapat menjadi penyebar virus tungro, virus yang menyebabkan penyakit kerdil yang dapat menyebabkan kehilangan hasil yang besar pada produksi tanaman padi. Fase pertumbuhan tanaman padi yang rentan terhadap serangan Wereng Hijau adalah saat fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum, yaitu saat tanaman padi umur 30 hari setelah tanam.



Serangan Hama Wereng



Wereng hijau menyukai tanaman yang dipupuk N (urea) dosis tinggi dengan jarak tanam rapat. Serangan yang rentan adalah sejak pembibitan hingga fase masak susu. Gejala kerusakan wereng hijau yang ditimbulkan adalah tanaman menjadi kerdil, anakan yang dihasilkan berkurang.

Wereng coklat menghisap cairan dari dalam jaringan pengangkut tanaman padi yang dapat menimbulkan kerusakan ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh sejak fase bibit, anakan, sampai fase masak susu (pengisian). Gejala kerusakan wereng coklat yang tampak dari serangan wereng coklat terlihat dari daun yang menguning kemudian tanaman mengering dengan cepat (seperti terbakar).



Pengendalian Hama Wereng



Mengendalikan hama wereng pada tanaman padi  juga harus menggunakan cara yang dilakukan dalam PHT (Pengelolaan Hama Terpadu). Adapun cara tepat mengendalikan hama wereng  pada tanaman padi adalah ;

  1. Gunakanlah VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) diantaranya; IR64, IR74, Ciherang, cimelati, Inpari 13, Padi Hibrida Maro,  Rokan,  Hipa-4,  Hipa-5,  Hipa-6, dll.
  2. Pengaturan pola tanam untuk memutus siklus perkembangan organisme penggangu tanaman. Lakukan pola tanam padi – padi – palawija. 
  3. Tanam jajar legowo untuk mengurangi kerapatan agar tanaman tidak terlalu lembab. Bisa digunakan system tanam jajar legowo.
  4. Pengurangan pemberian pupuk N (Urea) yang berlebihan, Rekomendasi pupuk urea pada tanaman padi adalah 300 kg per hektar atau per long 10 = 21 kg.
  5. Laporkan apabila terjadi serangan hama wereng kepada Petugas Pengamat Hama Kecamatan.
  6. Langkah terakhir gunakanlah pestisida secara bijaksana. Pengendalian hama wereng dengan cara penyemprotan  pestisida untuk insektisida diantaranya dapat menggunakan; aplaud, mipcin, winder, OBR, plenum dll.
    Penyemprotan Pestisida dengan bijaksana
  7. Hindari penggunaan insektisida piretroid sintetik karena dapat sebagai pemicu timbulnya wereng yang akibatnya akan terjadi ledakan wereng.
  8. Pada areal persawahan yang luas, lakukanlah penyemprotan masal, agar hama wereng pada lokasi tersebut dapat ditekan agar jumlah populasi perkembangbiakan hama wereng berkurang.
    

 by; Yusuf Himura